Monday, January 5, 2009

Boy Outside Girl Inside

ni sebenernya cerpen yang gw bikin n mau dikirim ke gadis. But till now kagak ada konfirmasi kabarnya ni cerpen T.T ya udiin baca yaaa. Enjoy!


“Leva! Layangan putus tuh, kejar!” seorang gadis cilik bersemangat mengejar sebuah benda dari kertas itu, yang entah akan mendarat dimana. Tapi antusiasnya juga diikuti anak lain yang membuntutinya. Nerry anak tomboy itu terengah-engah tiba dilapangan, ia langsung geram saat melihat sekelompok bocah lain mengambil layangan terlebih dahulu ”eh, layangan gue tuh!” bocah diseberang terlihat sedikit takut, mirip preman tuh anak cewek ”pake bengong lagi! Siniin, itu punya gue!” setelah diskusi sebentar anak-anak itu sepakat ngalah sama anak yang bertalenta di bidang palak-memalak ”cepet, lelet lo!” anak yang paling kecil di antara mereka dengan hati-hati memberikan mainannya, sementara si preman langsung merebutnya ”nah gitu dong! Tengkyu!”  dengan gaya sebodo amat Nerry langsung balik badan meninggalkan lapangan diikuti Leva yang menatapnya kagum ”keren banget lo Ner!”  ”siapa dulu? Gue! Yuk kita beli benang layangannya” ”ok bos!” baru beberapa langkah sang leader berhenti ”bawa duit nggak?” ”bawa” ”sini dong, gue pake dulu buat beli benang” tanpa penolakan bos kecil itu berhasil ngutang.

♦ ♦ ♦ ♦

Zaman telah berubah, sifat pemalak Nerry yang minta ampun, telah terkikis selama 8 tahun. Semenjak 3 SMP ia jadi preman insyaf. Udah jarang jutek, jarang malak, dan perlahan menjadi gadis yang feminim. Entah mungkin saat itu ia baru tertimpa buah kelapa yang membetulkan syaraf otaknya yang error. Tidak ada yang menyangka kalau dulunya gadis ini preman yang garang. Nasib berbeda malah dialami anak buahnya. Leva tetap tomboy seperti dulu, nggak cuma itu ia memang terlihat seperti cowok. Badan tegap yang mendukung, rambut juga dimohawk. Nggak jarang ia dipanggil ’mas’, orangnya cuek bebek dipanggil begitu. Cuma di sekolah anak itu terlihat jelas memang perempuan, karena tentunya mengenakan rok abu-abu.

♦ ♦ ♦ ♦

”Eh anak SMANGKA, lo ajarin gue yang ini dong” Leva paling sering menyingkat nama SMA Angkasa Garuda jadi SMANGKA, yang mana itu adalah sekolah Nerry ”ya elah bolot lo Va, ini kan yang tadi pagi dijelasin Pak Jeffry” Dina yang sekelas dengan cewek satu itu heran ”ya udah lo ajarin gue kalo gitu. Sudut yang di hitung jadi yang mana?” ”jangan mau Din, lo musti minta upah sama dia. Enak banget lo Va tiap hari gue jadi guru privat, tapi mana lo belum ajarin gue nyetir” si terdakwa Cuma bisa tertawa. Akhirnya acara belajar bareng Tri Mbak Ketar Ketir itu malah diwarnai dengan saling tuduh dan cela. Karena capek dan malam hampir larut Dina memutuskan untuk mausk kandang dan pamit pada kedua temannya. Tinggal Nerry dan Leva yang tersisa, kebetulan ortu Leva keluar kota ia memilih untuk menginap dirumah tetangganya daripada jaga rumah.

Baru kali ini lagi ia menginap, dulu memang sering, kadang Nerry yang numpang tidur. Dasaran Leva tukang tidur, baru beberapa detik berbaring ia sudah pulas. Nerry justru bukan orang yang cepat tidur, matanya masih berkeliling, kok rasanya kayak tidur sama cowok, habis potongan rambut Leva kan ala cowok apalagi diliat dari belakang ”Va lo tidurnya menghadap gue dong, gue takut lo berubah jadi cowok” ”hmmmh...” ia membalikan tubuh dengan mata terpejam. Gini baru aman, yang tidur disamping gue itu Leva. Nerry pastilah nggak mau, bangun tidur langsung jerit-jerit histeris karena disangka ada cowok di kasurnya.  

♦ ♦ ♦ ♦

2 soulmate itu sedang menuju musholla, waktu Leva masuk ke musholla perempua seorang OB menepuk pundaknya "maaf mas ini tempat perempuan, musholla pria di sebelah" Nerry terbahak melihatnya "mbak dia cewek juga kok, emang dandanannya begini" cewek tomboy itu diperhatikan dengan seksama "waduh, maaf mas, eh mbak maaf ya mbak" dengan kikuk ia buru-buru pergi keluar. "hahahaha elo sih, rambut mohawk gitu, sini deh gue lurusin aja" "eh jangan... jangan! Susah nih buatnya" tangan jail itu tetep maksa, akhirnya demi menyenangkan si hair stylist gagal Leva pasrah rambut jabriknya turun. "nah gini lebih baik, nggak cowok banget jadinya" "terserah lo aja deh" gimana orang nggak mengira laki-laki, mukanya ganteng. Cewek berambut panjang itu menatap wajahnya lama. Kok bisa sih perempuan tampangnya secakep ini. "ngeliatin gue, naksir? Udah ah mau ke toilet nih" "yee... Naksir? Udah gih sana-sana" baru kali ini Nerry terkesima memandang wajah sohibnya.

♦ ♦ ♦ ♦

Di sekolah Leva aktif banget sebagai kapten team voli putri. Betul-betul leader yang sempurna, semua anggota dari adik hingga kakak kelas kagum dengan permainannya. Nggak ada kata capek dan malas dalam kamusnya. Karena si tomboy ini cinta mati sama olahraga. Pantes aja badannya makin menjulang, dan atletis. Tiap 3 kali seminggu team voli nya rutin bertanding, bahkan di sabtu sore saat anak muda siap-siap hang out.

♦ ♦ ♦ ♦

Sreet… sreet... Dari tadi pileknya Nerry nggak pernah berhenti, rasanya pengen dilepas aja hidung ini, ketularan Leva sih! Tuh anak nyebarin virus nggak kira-kira. Lagi asyik-asyiknya bercengkrama dengan tissu di hidung, Dina memanggil lewat ponsel ”hallo? apaan sih Din?” ”eh kemana aja lo! Lupa ya mentang-mentang sakit. Soulmate lo menang kejuaraan voli tau, udah gitu baru aja Mayleva Natadita dapet penghargaan sebagai atlet putri SMA terbaik se Jakarta” speechless ia mendengarnya ”bayangin, sering banget kan tim voli nya menang?” ”Din, lo sama Leva nggak boleh kemana-mana ya, gue kesana sekarang” telepon langsung diputus, cewek itu melesat ke lokasi.

♦ ♦ ♦ ♦

Sampai di tempat Nerry bingung sendiri, final Olympic Games Senior High School  memang sudah usai, tapi masih ramai di lokasi. Leva dan Dina sulit ditemukan. Tiba-tiba dua tangan merengkuh pundaknya "hey anak pilek, kesini juga lo" ia menoleh ke belakang, Leva memeluknya dengan erat, kemudian menggendongnya sambil berputar "eh Va apa-apaan sih!" "gue seneng banget Ner!" Ia semakin erat dipeluk "Nerry gue bisa Ner! Gue bisaa!" "iya, iya gue tau lo pasti bisa lah Va. Kapten voli kayak elo masak nggak bisa" Nerry merasakan hal aneh, kenapa jantungnya jadi berdebar begitu hebatnya saat mereka berpelukan. Terasa berbeda. "lo betah banget sih sama gue, sampe nggak dilepas-lepas gitu" gadis itu segera menghapus pikiran anehnya. "biasa Va, suka tiba-tiba bengong sendiri" "eh elo jangan gitu Din. Udah ya abis ini kita makan-makan, gue ganti baju dulu" "okey Leva!" cewek ganteng itu merangkul makhluk di sampingnya "yuk Ner..." kok jadi aneh ya nih anak? Batin Leva

♦ ♦ ♦ ♦

Sosok itu terlihat cool dan kalem. Ia sedang menekuni buku di tangannya. Sementara itu di seberang sana Leva senyam-senyum sendiri dan matanya tak lepas dari sekitar kelas XI IPA 2. "lele! Gue cariin taunya lo disini" yang ditegur Dina tak bergeming "tugas kimia udah lo kumpulin belom sih? Tadi gue di tanya sama Bu Iim tuh" "udah... Udah.." "yah garing amat lo sama gue, ngapain sih?" gadis itu mencari tau apa yang di lakukan orang ini ketika mukanya senyum-senyum nggak jelas, mata jeli nya menerawang "wah lo ngapain ngeliatin si Febri?" Leva tertegun, kok temennya tau aja "hah, kata siapa, nggak!" "yah gue juga nggak tau bener apa nggak, tapi kan orang yang duduk di situ cuma si patung hidup" "eh lo nggak boleh bilang gitu! Diem-diem dia genius!" Dina tertawa, ketauan kan nih orang lagi ngapain "haha ketauan! Lagi nge-gebet Febri ya?" Leva nyengir lebar "ternyata cewek ganteng gini masih suka cowok juga" "yee! Gue kan emang cewek! Masih pake toilet cewek, masih 'dapet' sebulan sekali! Resek lo!" "gue baru liat lo lagi kasmaran begini" lagi-lagi cuma di balas nyengir kuda.

♦ ♦ ♦ ♦

Nerry menatap cewek di sebelahnya, akhir-akhir ini ia sering banget memandang Leva tiap ada kesempatan, selalu deg-degan jika mereka berdekatan, bahkan memiliki perasaan berbeda ketika teman masa kecilnya itu bilang I Love U di tiap akhir sms, yang padahal cuma bercanda-canda aja, dan nggak jarang khayalan tingkat tingginya muncul. 

Dalam pandangannya Leva memiliki nilai lebih dari sekedar soulmate. Cewek itu berkharisma, tangkas, punya selera humor yang bagus, dan... ganteng banget untuk ukuran perempuan. Ya ampun, apa akal sehat nya udah terbang? Ia tak bisa menjawabnya, dan pertanyaan terbesar yang ada di otaknya adalah "Tuhan kenapa Leva tidak Kau ciptakan sebagai lelaki? Karena aku sangat mencintainya"

Mobil berhenti di garasi Leva, mereka baru pulang. "Va..." "yap?" "thanks ya, I love you honey" Leva hanya mesem "i love you too Nerry" gilanya cewek itu terus kebat kebit sampe rumah.

♦ ♦ ♦ ♦

Dengan semangat Leva memasuki studio bioskop. Yeah film thriller tersadis akan segera dimulai, ini juga salah satu hobby nya nonton film-film seperti ini. Ia duduk di kursi nomor 13, lumayan jaraknya pas dari layar. Saat menoleh ke samping, waw nggak di sangka! Lucky banget duduk disini, Febri ada di sebelahnya, jadi inget salah satu iklan tentang kursi nomor 13.

Leva udah senyum-senyum duluan, sebelum akhirnya berani menyapa "Febri ya?" cowok itu agak sedikit bingung, ini siapa ya. Ia mengamati penampilan orang di sisinya, dan tergambarlah bayangan seseorang di otaknya. "Leva?" "hehehe iya" lagi-lagi cengengesan. Beberapa menit berlalu mereka saling diam, padahal lampu aja belum di matiin. Harus mulai duluan Va! Wajar dong dia kan cowok pendiam "sendiri aja Feb?" ia hanya mengangguk "tadinya sih gue mau ajak Nerry sama Dina, tapi dasar penakut ajakan gue ditolak mentah-mentah sama mereka" si kalem tersenyum, biar gaya Leva kayak cowok tetep cerewet juga. Sepanjang film nggak ada satu pun yang fokus, Leva terus cerita sementara Febri kadang cuma senyum dan sesekali menanggapi.

Keluar dari studio mereka jalan bersampingan "abis ini mau kemana Feb?" "nggak kayaknya mau pulang aja" "emang rumah lo dimana?" "matraman" "wah! Searah dong" "iya" "nggg... bareng gue mau nggak?" cowok itu tampak heran "emang pulangnya naik apa?" "busway" "kebetulan gw bawa motor, ikut yuk! ayo nggak apa-apa, searah ini kan" mimpi apa gue diajak paksa sama anak ganteng ini jadi takut diculik, batin Febri "ya udah deh" Leva tersenyum girang.

♦ ♦ ♦ ♦

Dina ngakak setelah mendengar cerita Leva tentang nonton specialnya. "untung lo pada nggak ikut, ya ampun kok bisa ya kita ketemu disana?" "hahaha pasti tuh anak bingung tuh ketemu sama lo" "lho emang?" "gila lo, dia pasti heran, kalian kan jarang ngobrol jarang say hi, tapi sekalinya ketemu... Lo SKSD banget" "abis kalo gue nggak gitu siapa yang mulai duluan? Febri kan diem banget, nggak maju-maju dong kita" "halaah maju kemana?" Nerry yang baru nimbrung merasa ketinggalan gosip ngeliat dua kawannya udah ketawa-ketawa "parah nih gue ditinggalin, lo udah seru-seruan aja!" "emang lo darimana? Eh mau tau nggak ada yang baru first date lho" "kan baru balik nih, hah siapa?" "si mas tampan ini" "bukan ngedate Din, kita kan nggak sengaja ketemu" "elo Va? Sama siapa? Kok lo nggak bilang-bilang sih!" "aduuh sorry gue lupa Ner, kemarin gue ketemu Febri" "siapa tuh? Nggak kenal gue" Nerry malah jutek "yah lo nggak tau ya  "nggak!" setelah kata terakhir itu ia terus bungkam hingga mereka pulang kerumah masing-masing.

♦ ♦ ♦ ♦

Perubahan sifat Nerry sangat terasa bagi Leva. Tumben sobat kentalnya itu bisa segitu juteknya apalagi ia nggak tau apa sebabnya. "hallo..." "hallo" "si mbok ya? Ada Nerry kan, mau ngomong dong" "aduh non, lagi keluar orangnya" keluar? Pergi sama siapa malem-malem "yang bener mbok? Nggak kemana-mana deh kayaknya" "bener non, tadikan dia bilangnya gitu" "haha udahlah mbok panggilin aja orangnya, saya tau banget nggak mungkin dia keluar jam-jam sekarang.” "sini deh mbok" Nerry akhirnya nyerah "mbok cepetan, mana temen saya?" "apa Leva?" gaya bicaranya ketus "eh elo... Kenapa sih lo, sifat lo jadi beda" "nggak kenapa-napa" "lo marah sama gue?" "menurut lo?" "menurut gue iya, gue salah apa emang?" "pikir aja sendiri" nggak ada yang salah deh, pikir dong Leva. Apa gara-gara Febri? "karena Febri ya?" Nerry mengangguk, ya ampun tuh anak peka juga "ok deh gue salah. Gue nggak sempet cerita-cerita sama lo tentang dia. Gue tau sebagai temen lama lo merasa dilupakan, soalnya gue nggak sempet juga curhat sama lo" "trus...?" "ya ntar gue kasih tau deh Febri yang mana, kalo perlu gue kenalin" Leva dodol! Bukan itu yang gue maksud, gue nggak suka lo deket sama dia, "terserah lo deh" "yah kok masih judes? Sorry deh honey" "hmmh" "jangan marah lagi dong, i lop you kok hahahaha" Nerry tersenyum "ya udah, daaah..!" "dadaah juga!" entah, ia jadi semakin menyayangi Leva.

"Febri siapa sih Va?" Mama yang lagi konsen nonton sensitif juga telinganya "hehe ada deh" "hayo siapa? Cowok kamu?" "yah hahaha belum ma, pengennya sih iya" "untung deh, tadinya mama mau bawa kamu ke psikiater" "ngapain?" "takut kamu berubah jadi cowok" "hwaa mama ampun deh" wanita paruh baya itu menggelitik Leva.

♦ ♦ ♦ ♦

Dari pinggir lapangan Febri tersenyum melihat pemandangan disana, apalagi kalau bukan tim voli putri. Ia kagum juga dengan permainan Leva yang gesit dan powerful, she's extra ordinary girl. "kak, ditunggu di lab komputer" seorang adik kelas menegurnya "lab? Ngapain ya?" "buat website sama data base sekolah" "o iya ya, ntar gw nyusul" "wah kak udah ditunggu dari tadi" mau nggak mau ia harus meninggalkan lapangan, good luck Leva! Sementara itu yang lagi berlatih malah senyum sambil terus memperhatikan Febri yang berjalan ke lab "woi kapten, serve dong!" ia memamerkan giginya "ok sabar, makan nih Baby!" langsung diservis keras.

♦ ♦ ♦ ♦ 

Dasar mobil tua, si VW kodok kesayangan Leva harus meringkuk di bengkel. Pemiliknya jadi harus bersedia naik bus, mana lagi penuh-penuhnya juga. Di sela-sela penumpang seorang nenek tampak lelah dan terhimpit pria di sebelahnya. "nek, duduk disini aja nek" Leva menawarkan kursi, tapi wanita tua itu tetap diam "Nek... Nenek!" jangan-jangan beliau tidak bisa mendengar panggilan cucu nya yang baik ini.

Tanpa sepengetahuan Leva, seorang cowok di kursi belakangnya tersenyum melihat tingkahnya. Gelagat pria kurus di samping nenek tampak mencurigakan, tangannya dengan leluasa merogoh tas ibu tua itu. ”mas ngapain?!”  gadis berseragam itu tak bisa tinggal diam ”situ biasa aja dong! Ini kan nenek saya!” ”nenek kenal dia” ”kenal? Nggak” copet amatir jadi geram tertangkap basah, tangan menyodorkan pisau ”jangan sok kamu! Harta atau nyawa?” perut pria itu jadi sasaran bogem keras Leva, ia mengerang kesakitan. Semua penumpang melongo dibuatnya dan pak sopir menghentikan bus. Akhirnya beberapa lelaki meringkus sang pencopet dan membawanya ke pihak berwajib.

Nenek pun memberi berjuta terimakasih pada gadis gagah itu ”Haduuuh mas, makasiiih banyak ya! Saya nggak tau kalo nggak ada mas” Leva tersenyum kecut, gile... udah pake rok SMA aja masih disangka cowok ”sama-sama nek” ”ini buat kamu” ”ya ampun nggak usah nenek, saya ikhlas kok” ”nenek juga ikhlas, ayo di ambil aja” ”udah nek, disimpen aja buat cucu nya. Saya juga mau turun sebentar lagi. Hati-hati ya nek...” ”yo wiss lah, makasih banyak dek!” ia melambaikan tangannya. Setelah pahlawannya turun wanita itu masih kagum pada penolongnya tadi ”baik banget ya anak tadi Pak, mana ganteng lagi. Sayang cucu saya laki-laki semua, mau saya jodohin kalo nggak” Bapak berkumis itu tertawa ”bu yang tadi itu perempuan lho. Dia kan pake rok” ”o ya? Kok bisa ya secakep itu?”

♦ ♦ ♦ ♦

Seseorang menepuk bahu Leva, siapa nih? Masak copet yang tadi "lo hebat juga ya" suara lelaki itu pelan, ia menoleh kebelakang jantungnya berdegup cepat "hah? Makasih" lalu kepalanya menunduk tersipu. Mereka berjalan bersama lagi. Cuma itu kalimat yang diucapkan Febri, sepanjang jalan mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing. Mr. Quiet mulai mengagumi Leva, sementara cewek maskulin itu gugup setengah mati. Daripada diam, apa mending gue langsung bilang 'Feb gue suka sama lo, jadi pacar gue ya' hehehe kapan-kapan aja deh kayaknya, biarkanlah kita menikmati keheningan berdua.

♦ ♦ ♦ ♦

Belum pernah ia merasa sebahagia ini. Rasa senangnya pasti beda di saat menang turnamen voli atau sukses jailin Nerry. Senang di waktu ngobrol bareng Febri, bangga ketika dipuji, dan nervous saat berdua dengannya. Inilah first love Leva, baru tiba di kelas XI SMA. Disekolah lelaki itu hanya murid biasa, penyendiri, tertutup, dan kawannya cuma buku. Tapi ia menemukan nilai lain di balik Febri, baginya orang itu pintar, misterius, dan keren. Leva tersenyum memandangi selembar buletin sekolah yang ia ambil diam-diam dari mading. Buletin tentang berita Febri yang memenangkan lomba programming. Kertas lusuh itu ia peluk hingga tertidur.

♦ ♦ ♦ ♦

Rupanya tetangga Leva juga sedang merasa kasmaran. Nerry bingung dengan perasaanya sendiri, beneran gue jatuh cinta? Masalahnya Leva sangat sangat beda dari yang lain. Ia seperti cowok yang terjebak di tubuh cewek, untung masih berpikiran jernih dia nggak sampai ingin operasi gender. Tapi yang nggak waras justru Nerry, semakin hari semakin menggila. Virus apa yang membuatnya menyukai Leva selama sebulan ini layaknya jatuh cinta dengan seorang cowok. Ia teringat waktu sweet seventeen seminggu yang lalu.

 

First cake tentunya special diberikan untuk Leva. Cewek itu sangat tampan dengan kemeja hitam dan jeans belelnya. Ia jail langsung mencium pipi Nerry, biasanya cewek itu langsung teriak-teriak karena jijik. Aneh, kali ini gadis bergaun biru itu malah tersipu ”kok lo nggak teriak-teriak sih?” ia malah membalasnya dengan hal serupa. Dua sahabatnya bengong ”emang gue nggak bisa bales Va?” Leva tertawa keras, sementara Dina bergidik ”najong lo! Dasar cewek-cewek gila, awas lo kalo ke nyosor gue juga!” ”yee ogah, lo belum mandi sih, kayak Nerry dong wangi… kalo udah wangi baru deh gue kasih ‘hadiah’ juga” “enak aja gue udah mandi! tapi untung gue nggak pake parfum ...”  mereka tertawa bersama.

 

Rasa deg-degannya memang berjuta-juta. Dulu Leva hanya dianggap teman dekat biasa. Yang kadang menguntungkan juga kalau jalan di daerah rawan, perempuan gagah itu bisa jadi bodyguard. Kadang juga sebagai teman curhat yang paling setia, atau pelawak yang konyol. Sekarang Nerry bingung, sohib lamanya itu lebih terlihat seperti seseorang yang ia sukai. Ia telah mencintai Leva mulai dari kekurangan hingga kelebihannya. Hatinya mulai cemburu diwaktu sohibnya menggebu-gebu bererita tentang Febri. Ia hanya bisa menyayangi tapi ragu untuk memiliki. Gadis itu mempertanyakan ke-normal-annya, gila ya kalo gue menyayangi Leva layaknya menyayangi lawan jenis? Pertanyaan itu terus terngiang hingga ia tertidur.

♦ ♦ ♦ ♦

Seorang wanita muda mematut dirinya di cermin. Ia tersenyum melihat bayangannya, tubuhnya yang mungil dibalut sebuah gaun putih, dan rambut hitamnya terurai indah dengan hiasan mahkota kecil diatasnya. Nerry akan menghadapi hari sucinya. Undangan telah disebar, pesta resepsi telah siap, semuanya akan berjalan lancar. Seseorang menatapnya dengan senyum, ia melihat bayangan orang itu dari cermin. Dialah yang akan mendampingi Nerry. Sosok berambut mohawk, dan wajah yang rupawan. Leva memakai jas hitam. ”kamu udah siap kan sayang?” wanita itu bertanya, pasangannya hanya mengangguk. Tak lama ia membuka jas nya, sekarang terlihatlah orang itu memakai gaun yang sama dengan Nerry, dan punggungnya terbuka. ”lho kamu kenapa pakai gaun, Leva?” ”aku kan pengantin wanita Ner, gimana sexy kan gaun ku?” ”aduh Va, aku nikah sama siapa dong? Kan kamu pengantin pria” ”kamu ya sama aku dong. Emang nggak ada prianya” perempuan itu hampir pingsan saat memperhatikan dandanan pendampingnya. Menyeramkan pria maskulin yang memakai gaun, seperti bencong tak sempurna ”AAAAAAAAAAAA!!!”

Mimpi buruk itu menganggu tidur Nerry juga batinnya. Ia takut hal tadi jadi kenyataan. Keringat dingin mengucur, hati nya semakin gelisah. Nerry meneguk habis segelas air putih. Ia takut rasa cintanya semakin mendalam pada Leva, takut sulit dihapus. Akhirnya ia memberanikan diri menelepon sohibnya itu, Nerry mulai gugup, kok nggak diangkat, ia menghubunginya lagi "hallo? Kenapa Ner" "kok lama ngangkatnya?" "lagi mandi barusan, tumben telepon pagi-pagi" di ujung sana Leva hanya mengenakan selembar handuk, fresh from bathroom. Otak Nerry langsung membayangkan hal tadi, bagaimana pun juga temannya itu seorang perempuan, ia menelan ludah "ntar ketemuan ya, ada yang mau gue omongin" "oh oke oke, yaah udah dulu ya Ner, mau melorot nih handuk gue" "tut tut tut" Leva bingung, kok tau-tau ditutup?

♦ ♦ ♦ ♦

Pagar rumahnya dibuka, di teras terlihat Nerry. "hey Ner! Gue nggak telat kan?" "nggak" matanya berkaca-kaca "lo kenapa say?" Leva menyentuh pipinya "ini yang mau gue omongin" ia nggak tahan melihat temannya menangis, dipeluknya Nerry "omongin aja semuanya" hatinya berdesir kembali "Leva gue nggak tau harus bilang apalagi. Mungkin gue udah nggak normal lagi. Gue punya perasaan beda sama lo. Gue baru berani bilang sekarang. Gue sadar ini nggak boleh terjadi, gue juga tau ini nggak akan terwujud" Nerry menarik nafas, siap jika setelah ini Leva akan ilfeel dan takut kalo sobatnya hampir lesbi "aku sayang sama kamu, seakan kamu cowok aku" mereka diam, sepersekian detik kemudian Leva ngakak, Nerry bengong "lo nggak takut atau ilfeel sama gue?" "hwahahaha.. Sorry sorry kalo lo tersinggung. Abis lucu aja, emang lo beneran suka gue?" ia menggangguk "kenapa? Apa lebih nya Leva di mata lo?" mata elangnya menatap mata Nerry "lo orang yang spesial buat gue. Lo perhatian, baik, lo selalu ada buat gue, gue suka semua sifat lo, gue kagum sama semangat lo, dan... Gue jatuh cinta sama tampang lo" lagi-lagi gadis berambut pendek itu tertawa sejadinya

"hahaha ada-ada aja lo!" "jangan ketawa terus dong" "hehe iya maaf, jujur sih gue kaget banget tentang ini. Gue heran kenapa lo bisa segitunya sama gue. Sebagai temen lama gue juga sayang banget sama elo. Dari kecil kita selalu sama-sama, menurut gue Nerry itu orang yang jadi panutan. Coba lo inget, waktu dulu elo yang bikin gue pinter main gundu sampe pinter baca tulis, sekarang pun lo masih rajin ajarin gue fisika. Lo emang lebih dari temen Ner, lo seperti kakak gue sendiri. Gue sering pangling liat lo dandan cantik banget, gue pengen kayak lo, gue capek, terus dipanggil mas" Nerry jadi terenyuh "Va lo serius? Meski lo mau berubah, lo nggak boleh kehilangan jati diri" "nggak serius juga sih, gue takut aja kalo banyak cewek yang..." "yang naksir elo? Nggak deh! Mudah-mudahan cukup gue aja yang hampir gila" "hampir? Emang belum gila beneran?" ia pun bercerita panjang lebar tentang mimpinya yang menyadarkan otak. "Tuhan masih sayang sama elo. Wah kalo gitu apa gue harus sering-sering pake handuk doang supaya lo ngeh gue itu cewek?" "ogah! Gue mimpi itu aja udah takut, dodol!" Leva tersenyum "lo nggak ilfeel kan?" "nggak, asal jangan berdoa supaya gue jadi cowok!" Nerry hanya terkekeh. Persahabatan mereka pun malah semakin kuat dengan adanya masalah tadi.

 ♦ ♦ ♦ ♦

Leva memandangi sobatnya dari jauh. Secara fisik Nerry memang menarik wajah orientalnya sangat manis, ditambah rambut hitamnya yang terurai. Ia seperti takut tersaingi kalau misalnya Febri malah jatuh cinta dengan temannya yang lebih sempurna sebagai perempuan. Di kala ia resah, Febri malah memandangnya dengan penuh arti. Leva tersipu. Dari jauh Dina yang duduk disamping Nerry berteriak ”Febri inget! Nggak boleh pacaran sama cowok!” yang merasa tertuduh geram ”Awas lo Din!” Leva mengejar Dina, kemana ia pergi dan siap untuk menjitaknya.

♦ ♦ ♦ ♦

No comments:

Post a Comment