Saturday, December 24, 2011

[Fanfic] I Will Keep You

Intermezo : Sebelum saya posting FF saya ini, saya mau mengumumkan dulu kalo FF saya ini aman untuk semua umur, nggak semua umur juga sih, pokoknya nggak ada adegan yang 17+ XD. Ini adalah FF yang pertama kali saya buat terdorong oleh fanfic2 yang telah ada. Castnya dari beberapa member SNSD, Shinee, 2pm, dll.






CHAPTER 1

Minho POV


Hari ini begitu panas, dan tentu saja aku ingin segera sampai dirumah. Sore nanti buku apa saja ya yang harus kubaca, Biologi… Fisika… Kim… BRUKKK! Sial! Karena terlalu sibuk dengan pikiran ku sendiri, tak sengaja aku menabrak sosok didepanku. Tingginya mungkin hampir setara denganku. Ia berpakaian rapi dengan blazer berwarna hitam dan aku membaca name tag A951 yang disematkan didadanya. Siapa pula ini yang kuhadapi

“maaf… saya nggak sengaja” aku menunduk

“sudahlah” matanya terlihat seperti mengamati aku

“kamu… Minho putra dari Bapak Leeteuk kan?” lho siapa dia, bisa tau ayahku

“i… iya”

“saya A951 yang diutus Pak Leeteuk untuk menjemput anda, dan mulai hari ini anda akan dikawal oleh saya”

“apa?”

“ya, saya akan berusaha menjaga anda 24 jam kemana pun anda pergi. Jadi sekarang kita pulang, dan ikuti saya menuju mobil”

aku masih meragukan orang ini. Wajahnya juga tidak begitu jelas karena tertutup topi dan kacamata hitam. Yang bisa kupastikan suaranya seperti suara perempuan, lekuk tubuhnya juga begitu. Tapi yang benar saja, sejak kapan ada bodyguard wanita

“ayo tuan mari kita pulang”

“eh iya” dan aku pun melihat mobil ayahku terparkir disitu. Ya dia memang benar bodyguardku.

#####

Hidupku jadi makin canggung sejak ada bodyguard aneh itu. Aku merasa nggak bebas mondar mandir kamar seenaknya. Tapi aku juga penasaran dengan wujud asli A.. A berapa tadi? Lupakanlah, nama yang aneh.

Di dapur terdengar suaranya sedang bercakap-cakap dengan Hyoyeon, pengasuh yang merawatku sejak kecil

“mau minum apa dongsaeng?”

“ah saya sendiri aja yang buat onnie. Udara agak panas ya”

aku memberanikan diri mengintip keadaan dapur. Mata ku tak berhenti menatapnya. Ia membuka kacamata hitam dan topinya. Rambut panjangnya yang indah terurai. Sambil menyibakan rambutnya, ia melepas blazer yang tadi dikenakan, jantungku berdegup sangat cepat saat melihatnya yang kini mengenakan kaus berwarna putih berlengan pendek.

Kaki dan badanku jadi lemas Ya ampun sungguh proposional tubuh wanita ini.. Aduh aku ini kenapa. Dari kecil aku memang tidak pernah melihat hal-hal seperti ini. Meski sepele sekali dibandingkan teman-temanku yang selalu update dengan video panas terbaru. Aku langsung lunglai hanya dengan melihat A951 terlihat indah dimataku.

“Minho sini, kamu mau jus?”

Seperti ada yang menghentikan detak jantungku sekarang, jangan-jangan dia tau kalau dari tadi aku berada disini. Dengan wajah cengar-cengir sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal, aku menghampirinya. A951 Memberikan jus jambu itu kepadaku

“gomawoyo…”

“cheonmaneyo”

“kenapa bisa langsung memanggilku begitu. Kau tahu dari tadi aku disekitar sini” ia tersenyum

“aku Cuma ingin memanggilmu saja”

Dan kau tahu, kejadian bertemu dengamu membuat ku sulit tidur malam ini.



A951 POV


Gawat kalau begini, sudah terlambat lima belas menit aku menjemputnya. Pelataran sekolah itu pun sudah sepi. Aku berulang kali mencoba menghubungi ponselnya namun nihil hasilnya. Minho kamu kemana? Akhirnya kuputuskan mencari setiap sudut sekolah ini.

Dari jauh terdengar samar-samar suara orang membentak dan melemparkan sebuah kayu. Perasaan ku mulai tidak enak. Aku mencoba mencari asal suara. Dibelakang sebuah kelas, terlihat dua lelaki begitu liar dan marahnya menendang dan memukuli si korban. Aku berlari secepat mungkin

“Hey!!!”


Mereka terperangah, tapi tetap tidak mau kalah membalas tatapan tajamku. Aku merasa bersalah melihat korban yang dipukuli tadi ternyata adalah Minho. Ia mengerang kesakitan memegangi perutnya, kacamatanya terjatuh ke tanah, dan buku-bukunya berserakan.

“Keparat! beraninya menghabisi dia, Salah apa dia?!” Aku menggulung lengan baju,
aku gerah ingin memukul tongkat kayu ini sekeras mungkin pada mereka

“Maaf! Wanita bukan lawan seimbang kami” laki-laki yang menendang Minho itu tersenyum tengil

“dia salah apa? Tanya saja sendiri!” Tatapan pria yang membawa tongkat kayu itu mengancam Minho. Keduanya lalu pergi meninggalkan kami.

“sudahlah noona. Aku nggak mau memperpanjang urusan dengan mereka” aku membereskan buku-bukunya yang berantakan

“iya, tapi kenapa sampai mereka berani melakukan itu sama kamu?” ia hanya menggeleng lemah, lalu kuberikan kacamata padanya, aku membantunya berdiri

“jeongmal mianhae, aku yang patut disalahkan karena telat menjemputmu. Tidak ada yang terluka selain perut?”

Minho menggeleng lagi, bocah ini sepertinya trauma. Kalau begitu besok aku akan benar-benar menepati janjiku, 24 jam menjaga Minho.



Minho POV


Istirahat biasanya waktu yang tenang bagiku untung menyembunyikan diri dari cemoohan dan keusilan Taecyeon dan Jaeboom. Aku lebih memilih bersemedi diperpustakaan atau menghindar dari mereka jika aku berada dikelas sendirian. Aku tidak mengerti mengapa hanya aku yang tak pernah mereka lepaskan.

Dulu mereka pernah melakukan hal yang sama pada Taemin dan Jaejin, namun semuanya sudah berhenti, karena Taemin adalah anak seorang guru, dan Jaejin sudah memberi uang yang lumayan agar mereka bisa menghentikan ulahnya. Sementara aku, aku terlalu takut untuk mengadukan ini semua. Telinga mereka terlalu tajam. Jika kejadian ini bocor sebelum orang tua ku tahu dan bertindak, mereka akan menghabisi aku lebih duluan. Aku pengecut? Iya, aku tidak menyalahkan pernyataan itu.

Di depan kelas berdiri seorang wanita yang tak asing bagiku, namun asing bagi sekolah ini. Ia menghampiriku

“waktunya istirahat kan? Kamu sudah makan?”

“tadi pagi, sarapan”

“kamu nggak ingin makanan ringan” ia melihat sekeliling dan sepertinya tau aku merasa canggung jika makan di kantin sekolah bersamanya

“baiklah, kita makan di luar saja”

Aku sedikit geli melihat A951 makan dengan lahapnya, dan ia sepertinya mengerti isi pikiranku saat aku memberanikan diri menatap matanya

“maaf, jadi aku yang minta ditemani makan. Aku belum sarapan”

ada pertanyaan mengganjal di pikiranku, siapa nama asli A951. Banyak suara-suara ditelingaku berseru, untuk menanyakan namanya tapi… aku masih malu bertanya untuk saat ini, toh suatu saat pasti namanya ketahuan juga. Beberapa menit kemudian ponsel pengawalku berdering, terdengar nyaring sekali suara di ujung sana

“Onnie! Kapan pulaang!” ia agak tersedak menerima telepon tersebut

“sabar dongsaeng. Saat ini aku belum bisa pulang, baru juga kemarin aku meninggalkanmu”

“Yuri onniiiie… siapa yang membelaku kalau aku pulang terlalu malam” ia terkekeh, dan mataku kembali tak bisa lepas senyumnya

“kamu sudah dewasa Yoona. Jangan pulang terlalu malam kalau urusan itu tidak perlu. Atau lebih baik kau mencari tempat les untuk membuat alasan saja”

“aah.. onniie... Ya sudahlah. Kerja yang serius ya”

“iya dongsaeng” A951 menutup ponselnya dan kembali melanjutkan makan.

“maaf Yuri noona, tapi sebentar lagi aku akan masuk kembali ke kelas”

“oh ayo kita ke kelas. Aku akan mengantarmu” ia bangkit dari duduknya lalu tersenyum

“oh iya benar. Namaku Kwon Yuri. Maaf lupa memberi tahu padamu sebelumnya” ia mengulurkan tangannya, dan aku menyambutnya.



Yuri POV


Aku duduk di mobil menunggu bel sekolah ini berbunyi lagi, padahal jelas-jelas baru semenit yang lalu bel berbunyi menandakan jam pelajaran terkahir baru dimulai. Karena terlalu penat kuputuskan keluar dari mobil dan berkeliling.

Tiba disudut sekolah dekat toilet, aku kembali menemukan dua bocah kurang ajar itu lagi. Mereka tertawa berdua sambil menghisap rokok dengan nikmatnya. Keduanya sepertinya tahu sedang diawasi

“apa?!” mereka rupanya menantangku. Aku menatap mereka kembali lalu tersenyum angkuh

“nggak perlu ikut campur deh noona dengan urusan kami” Kikwang buka mulut

“selama saya masih mengenal Minho, nggak akan ada yang boleh menganggunya” mereka malah terbahak

“lantas, mau noona apa?” masing-masing dari mereka mendapat tamparan keras dariku. Aku pun meninggalkan mereka dengan hujatan keduanya. Aku tak peduli dan terus berjalan.



Minho POV


Aku paham betul cita-cita ayah dari ia balita hingga kini tak pernah berubah. Menjadi seorang presiden. Usahanya yang keras sibuk di dunia politik, kini membuahkan hasil. Ayah menjadi kandidat presiden sekarang. Dan yang menyusahkan dari semua ini pengamanan berlebihan kepada keluarga kami. Seandainya ibu masih ada, beliau pasti akan menolak mentah-mentah diperlakukan seperti ini. Secara, mendiang ibuku ini hobi berjalan-jalan tanpa ingin dikawal siapapun kecuali ayahku. Sementara aku dikawal? Ya butuh juga sih. Apalagi dengan kondisiku yang sering tertindas seperti ini, tapi…

“kenapa bodyguardku seorang perempuan appa?” pria itu malah tertawa

“apa yang dikeluhkan?”

“pengawal itu harusnya tahan banting appa. Perempuan itu rapuh, aku nggak mau liat dia sampai terluka gara-gara mengawalku” tawa ayah makin kencang dan ia mengacak rambutku

“memangnya sesulit apa menjagamu nak? Kalau kelakuan mu seperti mafia, baru kuberikan pengawal yang sadis. Lagipula kau tidak boleh meragukan kemampuannya. Yuri sudah memegang sabuk tertinggi di bidang taekwondo, relax Minho, anggap saja dia teman. Dia tak pernah mengekangmu kan?”

aku hanya menghela nafas. Mungkin fisikku masih bisa ia jaga. Tapi hati dan jiwaku jadi rusuh semenjak Yuri terus didekatku.



Yuri POV


Tidak salah kalau rumah ini bisa dibilang rumah bersuasana pemakaman. Biasanya agak sedikit ramai dengan suara Bibi Hyoyeon yang memasak di dapur, dikarenakan ia telah pulang, suasana menjadi sunyi senyap. Sekarang yang kutemukan hanyalah Minho yang tampak duduk serius menggambarkan sesuatu dikertasnya. Goresan tangannya dikertas cukup bagus. Dan aku tertarik melihat gambar seorang wanita dan anaknya versi chibi

“sore Minho” seperti biasa ia terkejut melihat kedatanganku, namun ia membalas senyumku dengan tenang

“gambar ibu dan anak itu bagus Minho. Tangan mu lincah juga”

“gomawo. Ini gambarku dan mendiang ibu. Mirip kan?”

Minho seraya menunjukan foto ibunya. Ibu itu terlihat cantik saat menggenggam erat jemari anak lelakinya. Dalam hati aku bersyukur masih memiliki ibu, meskipun beliau kadang tak peduli padaku, tapi aku sama sekali tak bisa membayangkan jika harus kehilangan untuk selamanya. Aku jadi sedikit mengerti mengapa Minho begitu pendiam dan tertutup.

Tiba-tiba Minho merapikan kertas-kertas dan alat tulisnya. Ia beranjak.

“mau kemana?”

“aku jadi teringat ibu kalau begini”

“maaf Minho bukan maksudku membuatmu sedih. Lantas kau ingin ke pemakaman?”
ia menggeleng

“boleh aku ikut?”

“itu kan tugas mu noona..” aku tersenyum malu.





Minho POV

Sepeda kami diparkir ditepi danau. Yuri pasti masih bingung mengapa aku pergi kesini.

“ini tempat yang kau maksud?” aku mengangguk

“noona suka memancing?” ia meringis

“aku lebih suka menyantap ikannya”

Aku segera mengajaknya kesebuah pondok di sekitar danau. Tempat itu memang menyewakan alat pancing.

“oh iya. Saya mau sewa perahu juga pak”

“butuh pendamping?”

“kami bisa berdua kok”

“oh baiklah” bapak itu menyerahkan alat pancingnya.

“terima kasih pak”.

“jadi kamu mau apa sekarang?”

“memancing di perahu. Noona tak usah takut jatuh, karena aku bisa memegang kendalinya” jangan dikira aku sudah tidak canggung lagi bercakap-cakap dengannya, Sedari tadi aku bicara tanpa berani menatap matanya.

Kami menaiki perahu yang agak besar. Aku dan Yuri mengayuhnya hingga ketengah danau. Udara sore hari disini lumayan segar, bagus untuk menghilangkan pikiran yang penat.

“jadi mengapa kau memilih tempat ini? Tapi sebelumnya maaf kalau aku lancang membuka ingatan mu lagi tentang mendiang ibumu” kata Yuri seraya mengayuh. Benar kata ayah, tenaganya kuat juga, mengayuh dayung bersamanya jadi lebih ringan

“tak apa noona. Waktu aku duduk di sekolah dasar. Ibu senang mengajakku kesini. Beliau pernah bilang, masa kecil beliau pun dihabiskan disini. Kakek saat itu sangat galak. Ibu selalu menghindar dari kakek dengan pergi ketempat ini. Karena itu, ibu merasa memiliki kawan saat memiliki aku.

Kami sering naik perahu mengitari danau ini. Tapi sebenarnya yang hobi memancing itu ayah. Jadi jika aku merindukan ibu aku lebih memilih pergi kesini. Makam ibuku sangat jauh noona. Kami biasanya mengunjunginya tiga minggu sekali” Yuri mengangguk mengerti.

Aku mulai melemparkan kail, dan menunggu ikan memakan umpannya.

“ibu mu perhatian sekali Minho. Berbeda jauh dengan ibuku. Sepertinya bisnis nomor satu, urusan anak nomor kesekian. Kami dua bersaudara, dan keduanya perempuan. Padahal waktu ibu hamil dulu, beliau sangat berharap memiliki anak lelaki. Tapi Tuhan malah menitipkannya aku dan Yoona. Mungkin itu faktor beliau tidak perhatian padaku”

“maaf noona, tapi kudengar dari pembicaraan mu kemarin dengan adikmu. Ia selalu dimarahi bila pulang terlambat. Bukankah itu namanya perhatian?” Yuri tersenyum kecut

“iya, hanya pada Yoona. Karena dia anak bungsu. Lagipula yang marah itu ayahku, bukan ibuku”

“aku jadi ingin berbagi ibu bila beliau masih hidup” gadis itu kini tersenyum senang.

Tiba-tiba kail milik Yuri bergerak, sepertinya sudah ada ikan yang terkena jebakan

“tarik onnie!” ia berusaha sekeras mungkin menariknya, tapi karena terlalu semangat perahu kami hampir oleng

“ah! Ikannya lincah sekali” Yuri terlalu bersemangat, aku mencoba membantu, dengan menarik tangannya. Karena perahu semakin tidak seimbang, dan tidak sanggup menahan kami. Akirnya perahu kayu itu terbalik dan kami tercebur kedalam danau. Aku berusaha muncul lagi kepermukaan, tapi kemana Yuri?

“Noona!!” aku melihat lagi kedalam air, jangan-jangan dia tidak bisa renang.

Di dalam air, Yuri tampak tidak bergerak, tubuhnya hampir tenggelam. Aku menariknya dan segera membawanya kepermukaan air

“Yuri noona… Bangun Yuri…” aku menepuk-nepuk pipinya. Tapi semenit kemudian matanya terbuka dan malah menertawakanku

“ekspresi takutmu konyol Minho”

“itu nggak lucu noona!”

“mianhae Minho. Kau harus sering tertawa, hidupmu terlalu serius”

aku jadi berniat jahil sekarang, aku berenang menjauh dari Yuri sambil mendorong perahu

“hei mau kemana?” aku mencoba naik keperahu, lalu hendak meninggalkannya. Tapi sial, perahunya oleng lagi, dan aku terjatuh kembali. Tawa Yuri makin keras, ia berenang mendekatiku

“perahunya aku yang tahan. Kamu naik pelan-pelan. Tapi jangan meninggalkan ku!” aku hanya meringis, setelah aku naik Yuri pun menyusul. Karena hari beranjak petang, kami memutuskan untuk pulang saja, dan tidak jadi memancing lagi.



Yuri POV


Pergi bermain bersama Minho ternyata menyenangkan. Bocah itu akhirnya mengeluarkan tabiat aslinya. Dan hasilnya, sekarang kami seperti orang aneh. Seharian tidak turun hujan, tapi kami cuek bersepeda dengan baju yang basah kuyup. Untung bajuku lumayan tebal, jadi tidak terlalu risih jika basah kuyup seperti ini.

Di depan pintu, Yunho pengawal tuan Leeteuk memberi salam pada Minho. Ia memberikan kami tatapan aneh dan heran. Minho masuk duluan, sementara tanganku ditarik Yunho

“darimana kalian?” aku tertawa kecil

“memancing?”

“memancing? Ini kalian yang memancing apa kalian yang dipancing?” aku tak pernah
bisa menahan tawa melihat wajah Yunho yang bingung seperti ini

“memancing Yunho! Ceritanya nanti saja. Aku mau mandi”


Di dalam pun Tuan Lee Teuk menatap aneh pada Minho

“kamu darimana Minho?”
Lee Teuk juga menatapku yang baru masuk dan dalam keadaan yang sama dengan Minho

“biasa, main ke danau”

“harus basah seperti ini?”

“perahu kami oleng, karena terlalu semangat memancing” kata Minho sambil tersenyum menatapku.

Aku membungkukan badan pada Lee Teuk, memberi salam. Minho berlalu, dan Lee Teuk berbicara pelan padaku

“terimakasih sudah menemaninya” aku hanya mengangguk.



Minho POV


Sebulan berlalu hari-hariku dikawal oleh Yuri. Semakin lama semakin menyenangkan. Dan rasa canggung itu sudah hilang entah kemana. Sekarang kami biasa bercanda, tertawa bersama. Setiap hari selalu tak bisa hilang dari ingatanku begitu saja. Saat itu, untuk pertamakalinya Yuri mengantar ku kesekolah dengan baju kasual. Celana jeans, kaos berwarna abu-abu dan dibalut kemeja putih. Tapi tentu saja name tag A951 masih tersemat rapi

“noona, mana baju dinasnya?”

“belum kering, kamu lihat kan sore kemarin cucian ku menumpuk” aku terkekeh mendengarnya. Memang tak biasanya pulang sekolah kami mampir ke pusat perbelanjaan, tujuanku hanya ingin mencari komik terbaru saja. Tapi di lantai dasar terlihat kerumunan orang, kelihatannya Yuri tertarik

“Minho, boleh aku lihat kesana sebentar?” Aku mengangguk.

Wajahnya semakin antusias setelah melihat bahwa acara tersebut adalah acara Battle Dance. Tanpa bertanya lagi padaku, ia langsung mendaftarkan diri. Aku tak bisa berkutik, Yuri terlihat semangat dan maju dengan penuh percaya diri saat namanya dipanggil. Lagu Crazy In Love Beyonce menghentak keras. Aku semakin tercengang dengan penampilan dan lawannya, kenapa Kikwang bisa berada disini juga.

Sesuai hentakan beat ia menari sangat lincah dan enerjik. Gayanya sangat kuat, sulit dilupakan. Tatapan Yuri seperti menantang Kikwang. Dari mulai gaya robot hingga gaya yang seksi pun ia tunjukkan. Mata ku tak bisa berkedip dan jantung ini masih berdenyut kencang, meskipun aku tahu disekitarku ada Jaebom dan seorang gadis yang kukenal sedang melihat kearahku dengan sinis. Tapi aku tak mempedulikan mereka, karena tiba-tiba seseorang dibelakang menepuk bahuku

“Minho…” aku menoleh

“noona???” iya tersenyum memperlihatkan giginya

“maaf menyita waktumu. Aku sudah lama tidak melakukan ini. Jadi tiba-tiba aku kangen dan ingin battle. Ayo kita ke tujuan awal” sepertinya ia ceria sekali

“lho, onnie nggak mau lihat dulu siapa yang menang?”

“itu kan masih lama. Oh iya, aku baru sadar kalau lawanku tadi si bocah sialan itu”

“jadi noona serius nih, nggak mau lihat hasilnya dulu”

“cukup, aku nggak mau korupsi waktu lagi” dan ia tidak mempedulikan lomba itu lagi. You seems perfect for me noona.



Yuri POV


Akhirnya bel sekolah berdentang, aku sangat menyukai moment ini, rasanya seperti kembali ke masa sekolah dulu. Tadinya aku sabar menunggu tapi kenapa anak ini menjadi lambat lagi. Aku khawatir kejadian ia dipukuli dulu terulang lagi. Memang Minho sudah mewanti-wantiku agar cukup menunggunya di mobil tapi aku tak bisa kali ini.

Aku berjalan ke koridor kelas dengan tergesa-gesa, tapi yang kulihat malah Minho sedang berbincang-bincang dengan temannya. Gadis itu terlihat mungil dan seperti Barbie dengan rambutnya yang pirang kecoklatan. Minho terlihat seperti malu-malu berbicara dengan gadis itu.

“Minho! Kapan kita pulang!” ia menoleh kearahku, gadis itu memandangku juga

“iya noona sebentar”

Minho pamit pada gadis itu, dan sepertinya tatapan gadis itu kelihatannya kecewa dengan Minho. Siapa dia? Aku tidak peduli yang terpenting Minho harus pulang bersama ku sekarang.



Minho POV


Malam sudah larut, dan sketsa-sktesa special ku ini sudah hampir selesai. Kira-kira ada sepuluh gambar Yuri yang sudah kubuat. Dan aku paling suka, di gambar Yuri memakai baju tentara lengkap dengan senapan laras panjangnya. Terlihat garang dan anggun. Karena hampir mengantuk, aku berniat mencari udara segar sebentar di balkon. Tapi aku menemukan Yuri duduk termenung sendiri disitu.

“noona?” ekspresinya datar saat menoleh padaku, tumben

“sedang apa noona?”

“Maaf Minho, besok aku nggak bisa menemanimu seperti biasa”

“ada apa?” ia menghela nafas panjang, sepertinya ada persoalan berat

“orang tuaku akan berpisah” ia masih tersenyum, meski kali ini senyumnya miris

“ayah mengkhianati ibu, dengan selingkuh di rumah kami. Yang paling kusedihkan Yoona. Ia menangis saat menelponku tadi. Aku benci mengapa ibuku yang harus disakiti, kenapa ayah tega mengkhianati kami? Dan bodohnya selama ini aku lebih mempercayai ayah dibanding ibu! Karena ibu pun tak pernah mempercayaiku! Meski kenyataannya ibu menyayangiku namun tak mau mengungkapkannya”

Yuri berusaha menahan tangisnya. Perlahan aku memeluknya dan membelai rambutnya, dapat kurasakan air matanya menetes di bajuku.




Yuri POV


Bangunan tua itu seperti terus menumbuhkam aura kesedihan. Rumah yang sudah kutinggali sejak lahir ini memang tak pernah berubah arsitekturnya. Tapi kehangatannya hanya ada saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Semenjak ayah di PHK. Kedua orang tuaku bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Sejak itu pula ibu mulai sibuk dan tidak memperhatikanku. Aku merasa terbuang. Tapi aku tidak tahu, kalau selama ini ternyata hanya beliaulah yang paling menyayangiku dan Yoona, tidak seperti hidung belang ini

“Yuri…”

lelaki itu mencoba menyentuh pundakku, mungkin ingin membela diri. Aku menatapnya dingin, dan menepis keras tangannya. Aku hanya ingin bertemu ibuku, bukan denganmu Kwon Jaimin

Wanita yang dulu tak pernah akur denganku kini menungguku, sedikit senyum ia berikan. Aku memeluknya erat, dan meminta maaf atas semua kesalahan ku dulu.

“aku mengerti perasaan mu Yuri. Maaf aku memang terlalu dingin padamu”

“aku tahu Ibu. Meski kau tak pernah menunjukan kasih sayangmu pada ku, tapi aku akhirnya tau kau sungguh menyayangiku, dan tak bermaksud menyakitiku. Tidak seperti tuan Jaimin!”

“Sudahlah Yuri! Aku tidak ingin membahas masalah itu sekarang. Yoona tak ada di rumah sejak tadi pagi”

“YOONAAA?!”

anak itu gila sepertinya, orang tua dilanda masalah kenapa ia malah menambahkannya.



Minho POV

Yuri absen, sekarang Yunho menggantikannya menjadi pengawalku. Aku heran, mengapa ayah malah menemukan pengawal-pengawal yang good looking seperti ini. Dari sejak aku turun dari mobil banyak siswi yang terus menatapnya. Terserahlah, Yunho juga tidak ambil pusing.

Tapi satu pemandangan yang menarik perhatianku dan membuat sesak dadaku. Jaebom dan gadis itu. Sica menatap Jaebom, begitu pula lelaki itu menggenggam tangannya. Jessica Jung, gadis yang menarik perhatianku sejak bersekolah disini. Tatapannya yang dingin seperti es membuatku beku, tapi ternyata lelucon dan tingkah konyolnya membuat ku sulit melupakannya. Barbie impianku mungkin sudah dipelukan Jaebom, aku lirih menatap mereka, Sica sekilas menatapku, lalu dengan segera memalingkan wajah.

Baru saja aku keluar dari toilet, tapi terdengar suara keributan kecil dikelas. Lagi-lagi Taecyeon dan Jaebom. Apa yang mereka lakukan? Keduanya mengambil beberapa kertas dari folder, aku hampir tak peduli jika itu laporan yang mereka ambil, tapi yang mereka ambil adalah sketsa gambar Yuri yang ku gambar! Mereka sadar aku mengamati mereka

“Bodoh! Ada apa?! Kau tak suka kelakuan kami?!” Kikwang membentakku, senyum Jaebom membuatku sakit, aku kembali teringat kejadian tadi pagi

“gambarmu bagus. Lebih baik kuberikan untuk Jessica sebagai hadiah jadian kita”

perkataannya semakin membuatku sulit menahan perasaan ini, sekuat tenaga kutendang tulang keringnya. Aku yakin rasa sakitnya luar biasa, Taecyeon marah, dan memukul pipiku

“sudah berani kau pengecut!”

Tuan Jae Hee guru sejarah melewati kelas kami, dan menatapku curiga karena sedang memegangi pipiku yang memar. Jaebom dan Taecyeon langsung bersikap normal dan meninggalkan ku begitu saja. Jaebom mengacungkan jari tengahnya padaku. Aku tak akan diam lagi keparat!
*****
Suasana sepi dirumah memang tak bisa berubah. Tapi ini menjadi lebih parah sejak Yuri pergi. Aku bosan duduk menonton tv kabel sendirian. Ayah terlarut sendiri dengan buku-buku tebalnya. Sudah lama sekali kami tidak saling bercerita tentang kejadian sehari-hari. Di teras dari tadi terdengar tawa Hyoyeon, dan Yunho. Mereka terus bercanda sejak tiba dirumah tadi. Aku berminat ingin bergabung, tapi ayah menatapku saat aku bangkit dari sofa

“kesini sebentar Minho”

“ada apa?” dari raut wajahnya terlihat sangat lelah dan putus asa.

“aku sangat meminta bantuanmmu” ayah menyodorkanku bebarapa soal kalkulus

“ayah? Ayah ingin tes masuk universitas atau tes menjadi presiden?” aku tergelak melihat wajah ayahku stress karena soal-soal ini

“aku juga tidak mengerti, tapi sekarang ini merupakan salah satu persyaratannya” aku hanya tersenyum dan menepuk bahunya

“bersemangatlah ayah!”

“doakan saja, besok aku membutuhkan konsentrasi penuh, tes soal-soal ini, dan malamnya debat dengan kandidat lawanku”

akhirnya walau pikiranku juga penat, aku mencoba menyelesaikan soal tersebut. Baru kali ini waktu kuhabiskan begitu lama bersama ayah. Jam satu pagi kami baru kembali kekamar masing-masing.



Yoona POV

Aishh! Aku ada dimana sekarang. Tiba di Seoul aku seperti alien yang kebingungan turun di bumi. Yang ku ingin hanya satu, bertemu Yuri kakakku. Aku tak sanggup lagi menanggung rasa sakit ini sendirian. Dan yang paling penting sekarang adalah aku sama sekali buta arah akan tujuan ku. Yang ku tahu rumah tuan Lee Teuk, tapi dimana? Ah susah memang kalau pergi sendiri seperti ini. Pantas, ibu selalu melarang jika aku ingin pergi bersama teman-temanku ke Seoul.

Disaat aku frustasi seperti ini, sebuah mobil malah mengklakson ku, ingin rasanya aku mencari batu besar dan melemparkan ke mobil itu. Tapi aku meringis, aku memang salah, jalanku mengahalangi menghalangi mobil mewah itu. Aku menoleh masih dengan emosi, yang namanya mobil mewah sepertinya tidak masuk daftar yang bisa kumaklumi jika menggangguku dijalan. Perlahan kaca mobil itu terbuka, seorang lelaki berkacamata menyembul dari jendela

“maaf Nona, anda menghalangi jalan kami” amarahku entah pergi kemana saat melihat sosoknya.

Lelaki ini sopan, dan berwibawa, aku hanya bisa tersenyum melihatnya, aku menunduk dan meminta maaf . Tapi belum selesai aku berdiri tegak mobil itu sudah bergerak. Lho, kenapa tiba-tiba meninggalkanku? Sopan sekali. Aku berlari mengejarnya dan memukul bagian belakang mobil itu, mobilnya pun berhenti kembali, dan sekarang jendela si pengemudi yang terbuka

“maumu apa?!” ia membentakku, tapi bebarapa detik kemudian tatapannya jadi aneh saat melihatku

“santai tuan! Aku hanya ingin menanyakan daerah ini” aku menunjukkan sehelai kertas padanya, dan ekspresinya langsung berubah saat melihat tulisan di kertas tersebut

“Ya ampun Tuan Minho!” jadi pria berkarisma itu bernama Minho, aku tersenyum menatapnya, ia hanya menoleh pada pria menyebalkan itu dengan sangat kalem

“ini rumahmu tuan!” pria pengemudi itu terkejut

“o ya?”

“ada perlu apa nona” tadi wajahnya ketus, kenapa sekarang jadi sok ramah begini

“kakak ku bekerja disana, dan ada hal penting. Aku Ingin bertemu dengannya”

“kakakmu?” Minho bertanya padaku

“iya, kakakku bernama Kwon Yuri”

“Araso! Jadi kamu adiknya Yuri noona?”

“iya, tepat Minho”

“tapi sayang sekali. Tadi pagi Yuri onnie sudah berkemas pulang, ia khawatir pada mu Yoon…”

“iya namaku Yoona!” aku jadi makin senang ternyata Minho sudah mengenalku, apa saja yang sudah diceritakan Yuri padanya?

“lantas kau bagaimana sekarang. Kakakmu sudah pulang lebih dulu” ah ternyata ini masalah besarnya, lokasi sudah ditemukan, tapi objeknya malah pergi duluan

“baiklah. Kamu ikut kami saja dulu. Nanti akan ku kabarkan pada Yuri” aku mengangguk senang

“Kamsamhamnida Minho…”

Sepanjang jalan Minho terlihat gelisah dengan ponselnya

“kakakmu tidak mengangkat teleponku Yoona”

“dia memang kadang keterlaluan, di saat genting malah menghilang” Minho malah tersenyum menatapku

“maaf, itu bukannya kelakuanmu ya” aku tertawa kecil, aku jadi tak ingin terlihat bodoh didepan lelaki ini, lelaki disampingnya ikut-ikutan tersenyum melihatku

“sebentar ya, sepertinya aku harus keluar”

“tuan, mau kemana??”

“kalian tunggu disana. Yunho jaga Yoona saja, aku akan kembali secepatnya”

“tapi tuan”

“Tetap disini!” Minho sedikit ketus, ia berlari menuju arah gang kecil itu.




Yunho POV
“aku khawatir dengan Minho, juga dengan kakakmu”

Yoona menatapku

“oh iya, maaf nona atas ketidaksopananku tadi. Aku Yunho” ia menyambut uluran tanganku dingin

“Yoona..” beberapa menit kami terdiam, dan Minho belum juga kembali, aku semakin cemas

“bisa ikut aku nona”

“eh?”

“kita cari Minho!” kami menuju gang kecil tempat Minho berlari tadi. Yang ditemukan hanyalah sudut kosong dengan sampah berantakan, meski terdapat pintu, tapi gembok besar menutupnya rapat. Aku menendang pintu itu dengan keras

“sial! Anak itu kemana?”

“baik aku akan membantumu, kita berpencar”.

Malangnya, seluruh jalan telah kami telusuri dan waktu telah dibuang percuma, Minho
tetap nihil. Saat ini aku membenci diriku sendiri, dengan marah aku menendang dan memukuli tembok

“Yunho cukup! Kelakuanmu tidak akan menyelesaikan masalah” Yoona menarik
tanganku, dan menatap mataku.

Aku mulai merasa sedikit tenang. Tatapannya seperti tatapan Yuri saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku menghela nafas panjang

“hari ini tuan Lee Teuk butuh konsentrasi penuh untuk menghadapi tes kelayakan sebagai presiden, dan malamnya debat dengan lawannya. Seandainya Minho belum ditemukan dan tuan tau. Pasti pikirannya akan kacau!” dan sekarang aku melihat mimik bingung dari wajahnya, maaf nona membuatmu terjerumus dalam masalah lagi. Disaat seperti ini ponsel malah berdering, tanganku gemetar meraihnya, takut menerima panggilan dari tuan besar

“tunggu!” wajahku kini ceria saat melihat layer ponsel, sedikit titik terang akan ditemukan

“ini kakakmu!”



Minho POV

Ruangan lapuk ini dipenuhi asap rokok, pernafasanku sangat terganggu. Berulang kali aku terbatuk, mereka malah sengaja merokok di depan wajahku.

“kau pasti butuh air Minho” lelaki kekar ini membuka birnya, dan langsung mengguyurkannya kepadaku. Mereka tertawa puas. Taecyeon menamparku

“ini bukan salah kami, tapi ini memang hari sialmu!”

Aku melihat Jaebom berjalan menuju gang kecil tadi, dan melihatnya membawa folder plastic milikku. Aku sangat ingin merebutnya. Jadi kuputuskan untuk keluar dari mobil dan mengejarnya. Tapi sepertinya aku melihat yang bukan seharusnya kulihat. Tubuhku merinding dan sangat ketakutan saat melihat mereka. Taecyeon menyuntikkan lengan besarnya dengan sesuatu. Jaebom meletakkan folderku disampingnya, lalu menghisap sebuah bubuk melalui hidungya. Aku tahu mereka memang brutal, tapi tak kusangka akan lebih parah. Selama ini mereka ternyata pemakai obat-obatan terlarang. Keduanya terlihat takut dan marah melihat kedatanganku. Tanpa ampun, mulutku dibekap, dan mereka memasukanku kesebuah ruangan gelap. Sangat gelap, hingga tubuhku lemas dan tak sadarkan diri.

Aku bangun dalam keadaan terikat. Ikatan ini sangat kuat dan membuatku sakit.

“apa maumu terus mengikuti kami?!!” Jaebom terlihat sangat kesal

“aku hanya ingin folderku!” lelaki ini malah memukul kepalaku dengan botolnya

“bodoh!!”

“sakit, bangsat! bukan maksudku mencari masalah, tapi pukulannya tadi membuat kepalaku sangat pusing. Mereka kini menjadi sangat marah, dan menyiksa tubuhku. Semakin bergerak belitan ini semakin membuatku sakit. Berulang kali mereka memukuli dan menendangku. Aku hanya bisa pasrah, dan berharap semoga masih bisa tetap hidup sampai besok.



Lee Teuk POV

Aku berulang kali membuka latihan soal yang dikerjakan bersama Minho semalam, semuanya oke, tapi tunggu, rumus untuk nomor yang ini apa ya? Aku mencoba menekan nomor telepon Minho, tapi nomornya tidak aktif. Nomor kedua yang dituju Yunho. Yang ini malah belum diangkat panggilannya.

“Pak, sebentar lagi tes dimulai” aku memberi isyarat pada Taeyeon asistenku, untuk menunggu sebentar.

Sejak kapan Yunho mulai berulah, panggilanku untuk kesepuluh kalinya tidak diangkat. Aku memutuskan untuk memasuki ruangan dan mencoba tenang. Entahlah apa yang terjadi, firasatku tidak karuan, dan rumus-rumus diotakku seperti hilang disapu angin.


Yuri POV

Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam batinku saat ini, aku menemukan Minho sendirian, terikat di sebuah rumah kosong, di pinggir danau, tempat yang paling ia sukai. Wajahnya lebam, dan darah yang mengalir telah mengering di ujung bibirnya. Ia tersenyum menyambut ku. Dengan segera aku membuka ikatan yang membelit tangannya

“aku tidak menyangka noona bisa menemukanku”.

Tapi sebelum masalah kami dengan jeratan ini selesai, rupanya dalang masalah ini sudah muncul.

“oh datang juga kau rupanya” Taecyeon muncul sambil berkacak pinggang.

Amarahku memuncak, aku tak bisa menahan emosiku lagi. Sambil menenangkan diri, aku berdiri tegak dihadapannya, membalas senyum biadabnya dengan tatapan sinis, kuhantam perutnya dengan pukulan keras. Mungkin lelaki itu kaget, aku terus menyerangnya dengan menendang kakinya, tapi ia cukup gesit dan menghindar sekali, namun tak bisa menghindari tendangan ku untuk yang kedua kali. Sungguh, aku ingin menghabisi nyawanya sekalian. Ia bangkit, tiba-tiba gerakan tangannya cepat, mencekal tanganku dan ia mengeluarkan pisau dari saku celananya. Mata pisaunya hanya beberapa milisenti dari leherku, aku berusaha untuk tidak gegabah. Senyum liciknya membuatku muak. Dari arah belakang Taecyeon, Minho yang dalam kondisi lemah, menarik bahunya, dan memberi Taecyeon pukulan yang bertubi-tubi. Aku senang melihatnya, Taecyeon yang akhirnya mulai oleng, mendapat tendangan keras olehku dibagian perut, lelaki itu pun akhirnya terkapar.

Asap rokok mulai tercium di ruangan kusam ini seiring datangnya bajingan satu lagi. Jaebom rupanya sudah siap membidik pistol kearah Minho.

“Seandainya kau tidak gegabah, nyawamu tak akan berakhir disini Minho” Jaebom menarik pelatuknya tanpa ekspresi.

Tanpa berpikir panjang, aku mendorong Minho dan memeluknya erat. Kurasakan punggungku sakit luar biasa. Peluru itu kini bersarang dipunggunku, aku lemas, Minho berusaha menahanku tapi gagal. Kami terjatuh. Darah membasahi bajuku. Kini mulai samar-samar pandanganku melihat Minho yang sangat cemas. Aku hanya tersenyum, dan mencoba memeluknya semakin erat. Yang terpenting bagiku, aku bisa melindungimu. Beberapa saat kemudian kau malah melepaskan pelukanku disaat badan ini semakin tak berdaya. Bunyi tembakan kembali terdengar seiring jiwaku tak sadarkan diri.




Minho POV

Aku tak pernah merasa sekalut ini sebelumnya. Sebagai lelaki aku merasa lemah tidak bisa melindungi Yuri. Jantungku berdegup cepat saat Yuri tiba-tiba memeluk dan mendorong tubuhku, sepersekian detik kemudian ia tertembak. Terpaksa aku meninggalkan gadis yang sedang lemah itu. Jaebom seperti tercengang karena seharusnya ia menembakku, dan pistolnya jatuh begitu saja. Dengan cepat kuraih pistol Jaebom yang berada di lantai, dan segera menembaknya. Hasilnya aku puas! Meski bukan nyawa Jaebom yang akhirnya berakhir di pistol itu. Tapi sebagai akibatnya, aku, Taecyeon, dan Jaebom yang hanya terluka di bagian lengan digelandang ke kantor polisi.

Aku bersyukur, tidak terbukti bersalah bukan karena kondisi ayahku yang saat ini menjadi calon presiden. Tapi polisi ini melihat luka dan memarku yang cukup banyak sebagai bukti dari kekerasan mereka. Lagipula mereka sudah terbukti bersalah karena ditemukan sepaket narkoba yang telah mereka gunakan. Beruntung Yunho menemaniku sebagai saksi.

Kami akhirnya tiba di rumah sakit. Yoona duduk sendiri, kepalanya terus tertunduk.

“Yoona…” tarikan nafasnya sepertinya berat

“Yuri sedang menjalani operasi. Aku tak berhenti mendoakannya sejak tadi”

“pelurunya tidak menembus terlalu jauh kan?”

“entahlah, aku tidak fokus saat tadi dokter bilang, pikiranku hanya tertuju pada kakakku”

“maafkan aku Yoona, aku yang membuatnya terluka” ia tersenyum tipis

“itu memang sudah resiko. Aku masih ingat beberapa bulan yang lalu. Yuri sangat gembira saat diterima sebagai pengawalmu. Kakak ku sempat berkuliah di akademi kepolisian, tapi ia berhenti karena masalah biaya. Aku juga bingung darimana Yuri mendapat info bahwa tuan Lee Teuk sedang mencari pengawal. Yang jelas Yuri langsung tertarik saat tahu kamu yang akan ia jaga”

“dan kamu tahu, kami disumpah sebelum menerima pekerjaan ini” Yunho angkat bicara

“kami rela kehilangan nyawa demi keselamatan kalian” aku mengingat kembali kejadian mengenaskan tadi, Yuri memelukku semakin erat saat peluru itu bersarang di punggungnya. Ia bahkan sempat tersenyum sebelum akhirnya jatuh pingsan.

“tapi satu pertanyaan terbesarku untuknya” keduanya menatapku serius

“darimana Yuri mengetahui tempat penculikanku?”


Begitu tiba di Seoul, Yoona dan Yunho langsung menjemput Yuri. Di perjalanan Yunho rupanya masih penasaran dengan pintu di gang sempit itu. Tapi Yuri bercerita bahwa ia pernah bermimpi tentang kejadian ini, dan Minho disekap di sebuah rumah di dekat danau. Sempat terjadi perdebatan diantara keduanya, namun akhirnya Yuri mengalah dan ketiganya pergi ke lokasi hilangnya Minho. Mungkin pintu yang digembok tadi siapa tahu bisa didobrak jika ada tiga tenaga.

Tapi pintu malah sudah terbuka lebar saat mereka tiba. Ruangan di dalamnya sangat lembab dan gelap. Yoona menemukan bukti penting. Folder milik Minho tertinggal didalam. Dianatara gambar yang ada, gambar Minho, dan Yuri yang sedang mendayung di perahu, semakin menguatkan prediksi Yuri tentang lokasi Minho. Tidak ingin gegabah Yuri memaksa agar dirinya sendiri yang menghadapi dua lawannya itu. Tapi yang terjadi malah celaka yang menimpanya.

Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Tuhan aku tidak ingin kehilangannya.

Ponsel Yunho berdering membuyarkan lamunanku, wajahnya menoleh kearahku

“tuan, ayahmu ingin bicara” aku meraih ponselnya dengan malas

“ayah…”

“Minho kau baik-baik saja kan? Beberapa menit lagi aku akan menjemputmu”

“jemput? Ayah, aku tidak ingin pulang sampai Yuri siuman”

“tapi bagaimana dengan kondisimu, lagipula disana sudah ada Yunho, dan adiknya Yuri”

“maaf Ayah. Aku hanya ingin berada disisinya untuk saat ini”

“baiklah”

aku menyerahkan ponsel itu pada Yunho

“jadi tuan tidak pulang?” aku menggeleng.

Setengah jam berlalu, kami masih setia menunggu di depan ruang operasi. Yoona dan Yunho tertidur karena lelah. Mataku juga terasa berat, tapi bayangan tentang Yuri, dan mungkin sedikit trauma selalu menghilangkan rasa kantukku. Dari pintu ruang operasi, terdengar sedikit suara, pintu itu kemudian terbuka. Muncullah seorang dokter muda menyapaku

“anda kerabat dari Yuri?”

“iya dok, bagaimana keadaannya”

“sangat fatal jika peluru tersebut mengenai bagian tengah dipunggungnya. Karena disitu
tersimpan banyak syaraf vital, Yuri bisa lumpuh. Apalagi jika peluru itu menembus terlalu dalam dan mengenai jantungnya” tapi sedetik kemudian ia tersenyum

“tapi Yuri beruntung, peluru mengenai bagian punggungnya disebelah kiri. Kesembuhannya mungkin dapat ditunggu dengan hitungan bulan”

“jadi Yuri tidak akan lumpuh?” ia menggeleng

“Yuri memang belum siuman, tapi kami telah memberinya gips sebagai penyangga. Posisinya saat ini memang sangat tidak nyaman. Pasti akan sulit untuk bergerak, jadi saya mohon untuk terus berada disampingnya. Dan mungkin kehadiran orang terdekat bisa membuatnya semangat” dokter muda ini tersenyum lagi, tatapan matanya terlihat ramah. Aku speechless, sambil kubaca name tagnya kuucapkan terimakasih

“Kamsamhamndia. Dokter Tif… fa… ny. Tanpamu aku tidak tau bagaimana nasibnya”

“cheonmaneyo.” Ia membungkuk lalu pergi meninggalkan kami.

Aku menoleh sekilas pada dua makhluk yang masih tertidur itu. Mereka sepertinya tidak mendengar berita baik barusan. Tapi aku mengurungkan niat untuk membangunkan keduanya, aku hanya ingin sendiri menunggu Yuri siuman.

Aku menatap gadis dihadapanku nanar. Posisi tidurnya miring karena disangga oleh gips. Ia tertidur dalam keadaan damai. Dan satu hal yang kusyukuri. Aku tidak akan kehilangannya, dan sekarang benar-benar tak ingin kehilangannya. Aku duduk dikursi disamping ranjangnya, dan kugenggam tangannya erat. Di jam dinding waktu sudah menunjukan pukul sebelas. Aku yakin aku kuat menunggunya hingga tersadar. Tapi lama-lama kelopak mataku sulit untuk ditahan. Aku menikmati rasa kantuk seperti ini. Hingga akhirnya aku benar-benar tertidur.



Yuri POV

Cahaya lampu menyilaukan mataku. Aku yang biasanya tertidur dengan lampu yang dimatikan, kini harus membuka mata karena lampu masih menyala. Aku hendak menggerakan tangan kiriku, tapi berat dan sangat sakit. Apa yang terjadi denganku. Kamar ini sangat asing. Tapi seseorang nampak tertidur, kepalanya menunduk diranjangku, tangannya menggenggamku hangat. Aku mencoba mengenalinya. Rambut cokelatnya terlihat berantakan, dan ia masih mengenakan kacamata saat tidur.


“Minho?” aku mencoba menggerakan tangan kananku, dan hasilnya lelaki ini perlahan terbangun. Dipipinya terdapat lebam, dan ada segores luka dikeningnya. Ia langsung tersenyum sambil mengusap matanya

“noona! Kau sudah siuman?” aku tersenyum dan mengacak rambutnya

“menurutmu?”

“aku sangat bersyukur kau masih bisa bicara denganku saat ini onnie” rauh wajahnya terlihat senang, meski kuyakin ia sangat lelah

“semalaman kau menemaniku?” ia mengangguk

“lantas adikku yang bodoh itu mana?”

“ia menunggu dengan Yunho diluar. Sudahlah nanti juga kesini. Ada yang ingin kubicarakan” Yuri tersenyum lagi dan menatap mataku

“onnie..!” tiba-tiba pintu terbuka dan dua orang itu tiba-tiba rebut melihat Yuri yang sudah sadar

“Yuri!!”

“kubilang apa, onnieku pasti sudah sadar!”

“tapi caramu menarikku tadi membuat lenganku sakit” Yoona memukul lengan Yunho

“masak bodoh!”

“alien ini datang darimana Minho?” ia tergelak mendengar pertanyaanku.

“Minho curang! Kamu tidak bilang kalau onnieku sudah siuman”

“bagaimana aku mau bilang, kalian sudah menerobos duluan”

“iya tapi semalam kamu membiarkan kami tidur terlantar diluar”

“aku iba melihatmu, tidak ingin menganggu tidur kalian”

“Berisik!!!” aku hampir berteriak karena tiba-tiba mereka menjadi seperti anak-anak TK
yang sedang perang mulut. Yoona langsung menunduk

“maaf onnie” aku menarik tangannya agar ia duduk di samping ranjangku. Minho tersenyum padaku, seolah aku tahu maksudnya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi nanti.

@@@@

Menjelang petang, kamar rawat inap ini masih sepi karena Yoona dan Yunho belum kembali. Sementara Minho sedang mengaduk teh manisnya. Seharian kami menghabiskan waktu berempat. Hingga akhirnya tinggal kami yang ada diruangan ini

“ini untukmu nona”

“gomawo” dia hanya tersenyum, kenapa bocah ini jadi kelihatan canggung lagi dihadapanku

“jujur, aku masih nggak rela kalau harus noona yang jadi korban bukan aku”

“hey, itu sudah lewat. Mau kau terus sedih seperti ini, aku sudah dirawat disini. Lagipula ini kan pekerjaanku Minho” ia mengangguk

“oh iya, awalnya aku juga khawatir membayangkan dokter yang mengoperasimu”

“lho ada apa dengan dokter?”

“kalau dokternya perempuan, aku tidak masalah, tapi kalau laki-laki….” Aku tertawa dan paham maksud pikirannya, jadi Minho cemas jika seandainya tubuhku disentuh oleh lelaki sekalipun ia dokter

“hahaha Minho… Minho… meskipun ia laki-laki, seorang dokter pasti akan professional menjalankan tugasnya. Sama seperti aku, apapun bahaya yang menghadang itu resiko
yang harus kutanggung”

“hanya karena pekerjaan?”

“maksudmu?”

“oke, lupakan tentang resiko, dan pekerjaan ini. Karena aku hanya ingin berbicara tentang…”

tiba-tiba seorang lelaki masuk keruangan ini

“Minho…”

“ayah?” keduanya berpelukan, dari tatapan Leeteuk, kulihat ia sangat sedih melihat kondisi anaknya

“maaf nak, baru sekarang ayah bisa menjemputmu”

“sudahlah ayah yang penting kau datang kesini” dibelainya rambut Minho perlahan. Biar bagaimanapun aku yakin, Leeteuk adalah ayah yang baik. Dan tentunya Minho jauh lebih beruntung dariku.

“oh iya, Yuri bagaimana kondisimu?”

“masih sakit tuan, tapi yang penting aku bersyukur masih bisa hidup, dan tidak lumpuh”

“oh syukurlah. Aku tidak salah menerima mu sebagai pengawal, kau sangat tangguh” aku hanya tersenyum

“terima kasih tuan” setelah beberapa menit kami berbincang-bincang, mereka sepertinya hendak pamit

“tidak apa-apa kan kalau kami tinggal?”

“oh tidak apa-apa tuan”

“tapi Yunho belum kembali appa”

“biar Yunho yang menjaga Yuri. Aku yakin istirahat dan makanmu kurang. Lagi pula mungkin Yuri juga ingin beristirahat” sejujurnya aku malah jadi kesepian kalau begini

“baiklah ayah. Kami pamit dulu noona”

“hati-hati. Terimakasih sudah mampir tuan” mereka pamit dan kini aku sendiri. Ya ditemani orang tua, semua akan terasa tenang dan nyaman. Meski terkadang para anak merasa risih. Tapi adakalanya hal ini menjadi sangat dirindukan. Bahkan aku yang malah meninggalkan ibu. Aku terpaksa meninggalkan beliau ke Seoul setelah mendapat kabar Minho menghilang. Ibu hanya mengangguk, dan merestui kepergianku. Anehnya beliau tidak pernah lagi berselisih denganku sejak aku bekerja di luar kota.

Lebih baik, aku mengikuti saran Tuan Leeteuk, yaitu beristirahat. Diri ini sudah mulai terlelap, tapi pintu kamar terbuka lagi, mungkin itu Yoona

“Yuri…” suaranya sangat kukenal, tapi jarang kudengar, terdengar begitu lembut, aku membuka mata dan melihat ke arah suara

“umma!” wanita itu tersenyum

“aku yakin kau kuat Yuri” ia membelai lembut rambutku, seperti dreams come true

“umma sendiri?”

“ya seperti yang kau lihat”

“appa?”

“aku sudah memaafkannya. Tapi kami tidak akan bersatu lagi, lebih baik aku sendiri”

“masih ada aku dan Yoona umma” beliau mengangguk, tersenyum lalu membelai pipiku

“kamu sendirian?”

“iya, Tuan Leeteuk dan Minho baru saja pulang”

“adikmu?” kedua langkah kaki datang tergesa-gesa masuk ke ruangan kami

“Anyeong…” Yoona tersenyum senang melihat ibu, ia berlari memeluknya

“kemana saja anak ini, bukannya menjaga kakak mu, malah pergi!”

“aku pergi sebentar ibu”

“bohong, ia seharian jalan-jalan dengan Yunho” aku tersenyum jahil, keduanya jadi salah tingkah

“eh onnie!” kami tertawa melihat wajah Yoona yang sangat lucu karena malu.



Minho POV

Sesuatu yang dipendam pasti akan menimbulkan rasa tidak enak, dan sakit. Teori memang mudah dimengerti dan diucapkan. Tapi tidak selalu mudah dilakukan. Yuri berhasil membuat perasaanku sekacau ini. Perasaan yang mulai tumbuh sejak aku bertemu dengannya. Kharismanya sulit kutepis. Ia datang dengan tiba-tiba lalu perlahan merubah hidupku. Aku bisa sedikit lebih percaya diri di sekolah karena saran dan dukungannya. Dan sebagai gantinya Yuri bisa sedikit memasak karena bantuanku dan Bibi Hyoyeon. Aku yakin dengan perasaanku, tapi tidak dengan perasaannya. Dugaan terburuk, simpatinya selama ini hanyalah bagian dari pekerjannya, yaitu sebagai pengawalku.

“biarkan ia tahu dan mengerti perasaanmu Tuan” aku akhirnya bercerita pada Bibi Hyoyeon, karena ia yang paling kupercaya setelah ayahku

“seandainya ia tidak memiliki perasaan itu?” wanita itu menepuk bahuku

“yang penting dia tahu perasaanmu. Kamu lelaki Minho, hatimu pasti kuat untuk menerima semuanya”

“tapi menurutmu apakah Yuri juga merasakan hal yang sama denganku? Umurnya lebih tua dariku. Jangan-jangan benar cuma simpati saja” ia hanya tersenyum sambil menghidangkan cokelat panas di mejaku

“umur bukan masalah Minho. ungkapkan semuanya, dan kau akan tahu”

@@@@

“Noona, nggak bosan di kamar terus?”

“kamu berani mengajakku kemana?” senyumnya seperti menantangku

“keliling-keliling taman saja. Kita sarapan di luar ya” aku menyiapkan alat makannya dan kursi roda

“ayo tuan putri” aku memindahkan tubuhnya dari tempat tidur menuju kursi roda. Wajah kami sangat dekat, Ia tersenyum.

“hari ini kamu aneh”

“biasanya juga aneh kan?”

“hahaha iya betul juga..”

“kita berangkat tuan putri” aku membuka pintu dan membawanya pergi, di luar terlihat Yoona baru kembali

“lho mau kemana?”

“jalan-jalan. Jaga kamar ya dongsaeng” gadis itu mengerucutkan bibir saat kami pergi meninggalkannya.


Kami berhenti di taman rumah sakit. Memang tidak terlalu rapi dan indah. Tapi air mancur di tengah taman ini setidaknya menyegarkan pikiran Yuri yang sudah penat dengan suasana kamar.

“ayo noona…” aku menyodorkan sendok pada gadis itu, ia menyambutnya

“sudah berapa hari ya, aku menjadi balita yang diasuh oleh umma Minho” aku tersenyum kecut

“awas pesawat masuk.. buka pintunyaaa” aku memutar-mutar sendok lalu menyuapinya.

Tawanya riang, tak ada yang bisa mengalahkan manis wajahnya saat ini.

“noona, kamu masih ingat obrolanku yang waktu itu”

“Obrolan kita sudah banyak Minho. Yang mana?”

“dokter, profesi, dan pekerjaanmu”

“dokter, profesi, pekerjaanku? Kok nggak ada hubungannya?”

“pekerjaanmu itu adalah seorang A951. Kau melakukan semuanya hanya terbaut ikatan kerja?” ia mengangguk

“hanya sebatas pekerjaan? Kamu bahkan sengaja membiarkan dirimu tertembak” ia menghela nafas, dan aku tak pernah bisa membaca arti senyumnya

“kamu nggak percaya kata-kataku kemarin ya?”

“bukan. Aku Cuma nggak mau noona melakukan hal itu. Karena aku nggak mau kehilangan noona”

“YURI!” seorang lelaki berambut pendek kecoklatan menghampiri Yuri. Kulitnya putih bersih. Badannya terlihat atletis dipadu dengan jaket kulitnya.

“hey jagoan!” ia memukul pelan bahu Yuri

“sakit oppa!” ia tertawa. Siapa lelaki ini. Tiba-tiba menganggu kami.

“payah, masak sakit?” iya mencubit hidung Yuri, gadis itu terkekeh “oh iya oppa kenalkan. Ini Minho…” lelaki itu tersenyum ramah melihatku, lalu memberi hormat,

“wah putra calon pak presiden. Lapor! Saya Nickhun!”

“haha! Oppa sok kenal!” Nickhun melihat apa yang dipegang olehku

“boleh aku yang pegang Minho”

“jangan! Nanti oppa meracuniku!”

“ah kamu ini!” Nickhun menjitak Yuri, dengan berat hati aku menyerahkan piring Yuri padanya

“ayo buka mulutmu” Yuri melahapnya dengan senang hati, entah aku jadi malas berada di sini melihat mereka berdua

“noona”

“ya?”

“aku mau ke kamar kecil. Permisi”

“oh hati-hati di jalan Minho” Nickhun melambaikan tangannya, aku terpaksa senyum

“oppa ih! Dari dulu selalu begitu!”

“lho memang kenapa?”

Meski sudah meninggalkan taman, pandanganku tak lepas dari mereka. Nickhun terlihat senang bertemu dengan Yuri, dan sebaliknya. Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat. Yuri aku belum jujur padamu. Kenapa Nickhun harus datang sekarang?
Lagi-lagi karena pandanganku yang masih berada disana, aku tidak melihat orang di depanku

“maaf… aku tidak sengaja” sosok berjas putih dihadapanku hanya tersenyum, begitu juga matanya

“tidak apa-apa” mataku masih mencoba melihat ke tempat itu

“kau sedang melihat apa?”

“nggak apa-apa Dokter” aku berjalan berbalik arah, seperti orang linglung

“kamu mau kemana sebenarnya?” aku menoleh, aduh pasti aku terlihat sangat bodoh. Kalau ke kamar rawat inap, nanti bertemu Yoona dan pasti ia bertanya-tanya padaku

“ke kantin”

“oh ya? Aku juga mau kesana. Oh iya aku Tiffany”

“aku Minho” akhirnya kami pergi bersama menuju kantin.

“kau makan disini, atau dibungkus?”

“disini saja”

“sendirian saja?”

“iya”

“duduk disini saja ya” dokter ini mengajakku makan bersama, aku mengangguk saja

“oke, pak saya pesan kimchi dua porsi, air mineral dua botol, dan… kau mau apa?”

“sama”

“oke pak semuanya tiga”

“baik, tunggu sebentar” Tiffany melihat jam tangannya

“menunggu seseorang dokter?”

“iya, sepupuku. Nah itu dia!” dari luar seorang gadis masuk. Araso! jadi Tiffany adalah sepupunya

“Jessica! Disini!” Tiffany melambaikan tangan padanya, gadis itu seperti terkejut melihatku

“Minho?”

“lho kamu mengenalnya?” Jessica mengiyakan.

Selesai makan Tiffany pergi sebentar, tinggalah kami berdua

“maaf Minho”

“untuk?”

“aku dan Jaebom telah menyakitimu”

“sudahlah” ia menghela nafas

“aku tidak mengerti, ternyata Jaebom sejahat itu”

“itu sudah lewat Sica. Yang terpenting bagiku Yuri selamat” gadis itu tersenyum simpul.



Yuri POV

Nickhun terus bercanda tanpa henti, sulit membuatnya diam

“oppa jangan berisik! Ini di rumah sakit bukan di pasar”

“ibu Yuri, kau menyebalkan sekali hari ini. Lho itu Minho kan?” ia menunjuk seorang
lelaki yang sedang berbincang dengan seorang gadis berambut pirang. Mereka tampak senang

“Minho kan?” aku mengangguk

“pacarnya cantik juga”

“siapa bilang mereka pacaran?!” Nickhun heran melihatku

“lho memangnya bukan ya. Wajahmu kok jadi seram begitu? Hahaha” jangan-jangan ekspresiku tadi berlebihan. Tapi aku pernah melihat gadis itu dengan Minho saat menjemputnya dulu. Ia tidak pernah cerita tentang gadis Barbie itu.

“jangan melamun begitu. Ayo kita ke kamar”

“eh iya iya” perasaan aneh ini muncul lagi.



Yoona POV

Sial sekali pagi ini. Ditinggal sendiri di kamar rawat inap. Dari tadi sudah berkali-kali mencari channel yang bagus di tivi, tapi tidak ada. Berita di Koran, yang seru tentu saja berita dari Tuan Leeteuk dan perjuangannya menjadi presiden. Tapi seperti ada suara langkah kaki menuju kesini, pasti mereka kembali. Aku membuka pintu dengan senyum selebar mungkin

“Anyeooong….” Seorang lelaki berkemeja hitam membalas senyumku dengan senangnya

“Anyeong. Hai Yoona!” rasanya menyesal menyapanya pagi ini, yang datang ternyata Yunho.

“harusnya kan kamu kerja. Buat apa datang kesini?”

“aku kerja disini. Menjaga kalian. Untuk sementara aku tidak mengawal tuan Leeteuk. Yuri kan sedang sakit”

“huh! Ku kira kakakku dan Minho yang datang. Ternyata malah orang nggak penting sepertimu yang kesini” Yunho hanya tersenyum dan menawarkan roti cokelatnya

“mau?”

“sudah kenyang!” sesekali aku menatapnya, melihatnya makan membuatku jadi lapar lagi, ia melihatku lagi lalu tersenyum

“kamu mau kan? Jangan pura-pura, ayo buka mulutmu” aku berusaha merebut rotinya, tapi tangannya cepat menghindar

“tanganmu kotor. Apa susahnya sih tinggal buka mulut”

“baiklah” aku membuka mulutku, Yunho mengambil potongan roti yang besar untukku

“hmmh….!”

Sial! Aku sulit bicara, memangnya mulutku selebar apa? Rotinya terlalu besar. Aku melepaskan rotinya dari mulutku. Kupukuli ia tanpa ampun. Yunho malah pasrah dan tertawa melihatku. Tapi tawaku terhenti saat meliha pria yang memasuki ruangan bersama Yuri.

“lama tidak berjumpa” ia tersenyum, aku melepaskan Yunho.

“Nickhun?”

“maaf sudah meninggalkanmu” lelaki itu mendekapku. Aku sekilas melirik kearah Yunho, ia tampak tercengang, dan tatapannya terlihat kecewa.



Author POV

Malam mulai larut. Di Seoul, empat orang yang berbeda merasakan perasaan yang sama. Penasaran dan sedikit kecewa. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Jessica terdiam di depan laptopnya, awalnya ingin mengupdate blog dan sekedar membuka akun twitternya. Tapi ia bingung apa yang ingin di tulis. Kisah cintanya dengan Jaebom hanya keterpaksaan semata, dan itu rupanya sangat menyakiti hati Minho. Ia sadar langkahnya sangat keliru. Dan setelah Minho mengakui kalau lelaki itu menyayangi Yuri, ia baru merasakan perasaan cintanya pada Minho memang nyata. Sica bodoh! Kau sudah mengacuhkan dan menyakiti lelaki sebaik itu! Tanpa henti Jessica merutuki dirinya sendiri.

Yunho menatap cahaya lampu di kota Seoul dari atap kediaman Lee Teuk. Yoona gadis cerewet yang mampu merebut hatinya saat pertama bertemu. Selama ini, ia menyukai pertengkaran kecil yang memang sering terjadi diantara mereka. Wajah lucu Yoona yang membuatnya tertarik. Selain itu dia adalah gadis yang kuat dan tegar dalam menghadapi masalah, meski kadang sedikit nakal. Kesempatannya memiliki Yoona seakan hilang setelah Nickhun, mantan kekasihnya datang. Mereka terlihat masih menyayangi. Ayolah Yunho, dia hanya mantan. Pikiran itu membuatnya mulai tersenyum.

Baru hari ini Yuri merasa sulit tidur. Padahal obat yang diberikan dokter biasanya ampuh membuatnya terlelap. Bayangan gadis Barbie itu, dan kenangannya dengan Minho seolah sibuk di otaknya. Aku memang tak pernah tahu perasaannya, jadi bukan berarti rasa canggungnya selama ini menunjukan kalau ia menyukaiku. Dan mungkin saja gadis itu adalah kekasih Minho. Tidak! Jika itu nyata seperti akan ada yang hilang dihidupku. Yuri menatap Yoona yang sudah terlelap. Aku ingin tegar seperti dia.

Minho menatap lagi sketsa terbarunya yang sudah ia buat semalaman. Tak ada gambar lain selain gambar Yuri. Perasaan ini sudah membuatku tersiksa. Aku tidak akan peduli siapa Nickhun itu. Mau dia mantan, teman, atau kekasihnya sekalipun. Besok aku akan bicara padamu. Dan pastinya harus diantara kita berdua. Tunggu aku Yuri.



Yuri POV

Minho seperti biasanya datang paling pagi menjengukku. Kebetulan sekolahnya libur. Ia terlihat segar dengan kaos berwarna biru, dan celana jeans hitamnya itu.

“tangan kirimu sudah bisa memukulku noona?”

“hahaha kau selalu meledekku awas kalau aku sembuh nanti!” ia tersenyum manis, lalu mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidurku

“kemarin pacarmu kesini ya?” tiba-tiba saja pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulutku, wajahnya tampak bingung

“pacar? Yang mana?”

“gadis yang berambut blonde itu. Aku melihat kalian kemarin”

“oh…”

dia hanya tersenyum dan menunduk, kenapa wajahnya seperti orang tersipu begitu, aku jadi gugup sendiri

“dia Jessica. Teman sekolahku. Dan sepupu dari Dokter Tiffany. Aku tidak sengaja bertemu dengannya disini. Dia titip salam untukmu noona”

“serius bukan pacarmu? Tapi kurasa kamu menyukainya” aku ingin memukul kepala sendiri dengan palu. Kenapa jadi menggodanya, kalau tiba-tiba ia bilang, iya aku menyukai Jessica, noona. Habislah aku

“hahaha noona. Dulu aku memang menyukainya. Tapi sekarang...” ia menatapku serius

“sekarang bukan Jessica. Aku tidak ingin kehilangan seorang Kwon Yuri” aku tertawa

“kehilanganku sebagai apa? Kalau sebagai pengawalmu lagi sudah tidak bisa. Aku harus beristirahat selama beberapa bulan, dan setelah itu pasti tuan Leeteuk akan mengganti pengawal yang lebih handal jika ia menjadi presiden” Minho terdiam sejenak, menghela nafas

“aku tidak ingin kehilanganmu bukan karena ikatan pekerjaan, tapi karena perasaan. Aku janji, aku yang akan menjagamu kelak”

“kalau itu yang kau mau. Aku tidak bisa bilang tidak. Aku harus jujur, aku menunggu kata-kata ini darimu” perlahan ia menggenggam tanganku

“itu…”

“apa?”

“ah lupakan saja”

“Choi Minho, sudah berapa kali kau seperti ini padaku. Ada apa?”

“Nickhun bagaimana?” aku terbahak, jangan-jangan kami sama, saling curiga

“dia mantan kekasih Yoona. Dan dia kakak kelasku di SMA dulu. Kami bertiga memang dekat”

“oh syukurlah” ia tampak senang mendengar perkataanku barusan.

“tapi kau sungguh serius dengan pernyataanmu barusan Minho?”

“menurutmu?” Minho membelai rambutku, lalu mengecup keningku dengan lembut.


Yunho POV

Aku tahu apa yang mereka bicarakan didalam. Setelah wajah keduanya terlihat serius akhirnya mereka berdua tersenyum. Minho pasti sudah mengutarakan perasaannya dengan Yuri, dan aku tidak percaya dengan yang kulihat terakhir ini. Tuan mudaku mengecup kening Yuri. Kisah mereka memang sempurna. Aku menoleh pada makhluk di sampingku yang juga sedang memperhatikan sepasang kekasih itu dari jendela. Yoona balas menatapku. Entah wajah kami menjadi begitu dekat. Kami saling diam, gadis itu kemudian menunduk. Perlahan aku mengangkat wajah Yoona, dengan menyentuh dagunya

“kamu masih menyayangi Nickhun?”

“itu bukan urusanmu”

“aku serius” ia menepis tanganku yang masih menyentuh dagunya

“perasaanku pada Nickhun sudah hilang sejak lama. Dan sialnya kau sudah membersihkan pikiranku tentangnya” Yoona malah cemberut

“hahaha jadi itu yang kau rasakan?”

“aku sial bertemu denganmu!”

“masak bodoh, yang penting di otakmu sekarang hanya ada aku kan?” aku tersenyum nakal, Yoona memukulku dengan tasnya

“percaya diri sekali kau!”

“tidak apa-apa. Asal kau sudah jujur padaku, semua aman” gadis itu tersenyum, senyum terindah yang pernah kulihat.




Setahun Kemudian

Minho POV

Hujan deras malah semakin menjadi. Kami harusnya sudah pulang setengah jam yang lalu. Aku melirik Jessica yang berada disampingku. Ia juga cemas sedari tadi terus melihat ponselnya

“Sica, kamu di jemput?”

“sepertinya tidak” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Aku dan gadis ini masuk ke satu universitas yang sama, dan satu jurusan pula. Kami memang sama-sama menyukai bidang hukum.

“Minho, aku pulang duluan ya. Kalau tidak cepat-cepat aku takut tidak dapat bis terakhir”

“masih hujan Sica. Nanti kamu sakit”

“ah kau seperti tidak mengenalku. Daya tahan tubuhku bagus Minho” ia mengepalkan jarinya, aku jadi geli

“baiklah aku antar” aku melepaskan jaket tebalku untuk menutupi Jessica dari hujan. Ia hanya tersenyum, dan kami berjalan bersama.

Aku tidak menyangka di samping mobilku telah berdiri Yuri.

“Minho!”

“aku duluan ya Minho” tiba-tiba Jessica pergi, ia membawa serta jaketku. Aku yang kehujanan refleks mendekati Yuri dan ikut berteduh. Tapi gadis itu malah mendorongku

“Heh enak saja! Ada apa kamu dengan Jessica?”

“sayang, aku hanya mengantarnya sampai halte. Dia bisa ketinggalan bis kalau tidak cepat pulang” aku hampir gelagapan kehujanan seperti ini,

“ayo kita masuk” aku hendak membuka pintu mobil, tapi Yuri berjalan meninggalkanku.
Aku menarik lengannya

“maaf sayang. Kamu jangan salah paham” Yuri menoleh, dan ekspresi marahnya menyeramkan. Ia tetap berbalik badan meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan dua orang bermasker hitam menghadang kami. Ia mengacungkan pisau kearah Yuri

“mana tasmu!” suaranya terdengar aneh.

Tanpa berlama-lama lagi, aku segera maju dan menyerang sosok misterius itu. Bagus, dua lawan satu. Meski bernotabene mantan pengawal, Yuri hanya diam di pinggir, ia hanya bisa menyemangatiku. Baiklah, ini memang bagian dari janjiku, menjaga Yuri saat ini.

Lagi-lagi posisiku terjepit, perampok yang tubuhnya lebih tinggi mencengkram leherku dari belakang. Didepan ku perampok satunya lagi sudah menyodorkan pisaunya. Aku sempat melihat sekeliling, Yuri kemana?

“Yuri!!!”

perampok di belakangku semakin kuat menahanku. Perlahan aku mengumpulkan tenaga. Sekuatnya aku melepaskan cengkraman perampok itu, kutarik tangan perampok yang memegang pisau. Dan memutar lengannya

“Arrgh!”

suaranya terdengar seperti perempuan dan sangat familiar “kalian siapa??!”

Dari arah belakang terdengar suara dua orang melangkah. Mataku tak bisa berkedip melihat pemandangan ini. Yuri dan Jessica membawa sebuah kue tart lengkap dengan lilin 19 tahun.

“Happy Birthday Minho!!” Keduanya bersorak riang, belum sempat aku menghampiri mereka, kedua perampok ini membuka topeng mereka

“Happy Birthday too!!”

keduanya meniup terompet kecil yang dikeluarkan dari saku mereka. Ternyata penjahat gadungan itu adalah Yunho dan Yoona. Aku merangkul keduanya

“kado kalian sangat mengesankan!”

“dan kau juga memberi kesan pada lenganku. Aku terkilir!” Yoona marah-marah, kami semua tertawa. Yunho dengan lembut menghampiri kekasihnya

“sabar ya sayang. Semuanya tentu saja Yuri yang harus bertanggung jawab, dia kan dalangnya” aku menoleh kearah Yuri. Ia tersenyum sambil merangkul Jessica.

“sebenarnya tadi aku tidak tega melihatmu kehujanan begitu” tapi ekspresinya terlihat puas karena sukses menjahiliku,

“Selamat ya Minho, kau sangat-sangaat beruntung memiliki Yuri” Jessica mengulurkan tangannya padaku, aku menyambutnya. Yuri hanya tersenyum melihat tingkahku yang sedikit canggung.

“sama-sama Jessica, terimakasih juga kau sudah membantu mereka ini” ia hanya tersenyum, aku menatap Yuri lagi, meski tersenyum aku tahu ia sedikit cemburu. Aku mendekatinya, dan kurengkuh bahunya “ini semua idemu?”

“ide kami berempat”

ia tetap terlihat manis meski rambut dan pakaiannya menjadi kusut karena basah kehujanan. Aku mengecup pipinya. Yuri memelukku dengan erat.

“sepertinya acara sudah selesai ya?” Yoona bertanya, Jessica mengangguk

“kita pulang yuk” ketiganya malah tersenym dan menatap kami.

“daaaah! Sekali lagi happy birthday Minho” ketiganya pamit dan tinggalah kami berdua.

“ada hikmahnya juga ayah tidak terpilih menjadi presiden”

“apa?”

“aku bisa dikerjai kalian seperti ini. Dan Yunho memang pengawal yang nakal karena menyempatkan diri mengerjaiku” Yuri tertawa mendengar ucapanku

“Dan Minho adalah seorang yang bisa menepati janjinya untuk menjagaku. Meski ternyata yang tadi kau lawan adalah Yoona” aku jadi geli mengingat kejadian tadi

“dan Yuri adalah mahasiswi komunikasi yang.. yang..”

“sudahlah, aku memang seorang sosok yang hebat kan. Kau tak usah bingung begitu”
aku tersenyum melihatnya, gadis ini akhirnya melanjutkan kuliahnya meski diselingi kerja part time disebuah Koran. Yuri menatap mataku, perlahan aku membelai pipinya. Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang hangat dengan jarak yang sedekat ini.

”BLACK OR WHITE!!!”

ponsel Yuri tiba-tiba berdering keras, gadis itu mengangkat ponsel perlahan. Aku bisa mendengar sedikit percakapan diantara mereka, wajah Yuri serius, kemudian berubah menjadi tawa yang keras

“ada apa?”

“dasar Babo! Yunho meninggalkan kunci mobilnya padaku. Mereka hampir tidak bisa pulang, untung ia masih memiliki kunci cadangannya”

dan kami kembali tertawa bersama membayangkan mereka. Aku tersenyum melihat tawa Yuri yang begitu lepas. Thanks for coloring my life noona.

Wednesday, December 21, 2011

Me and Cats

Sebelumnya saya mau ngucapin terimakasih buat kucing-kucing saya yang udah ngajarin saya bagaimana jadi owner yang baik, meskipun sampe sekarang saya belum jadi owner yang oke buat mereka. Dan saya mau minta maaf kalau saya suka teledor dalam merawat mereka.

Kalau ditanya, apa yang pengen banget kebanyakan seorang anak kecil miliki, rata-rata mereka pasti akan jawab pengen punya mainan segudang, dan video games. Saya sewaktu kecil juga nggak jauh beda kok, siapa sih yang nggak mau punya mainan banyak dan keren? Mainan-mainan itu Alhamdulillah saya bisa punya, meskipun nggak selalu update. Tapi sesuatu yang ingin banget dari kecil dan baru terkabul sampai sekarang adalah kucing. Saya nggak boleh punya kucing dari dulu, karena takut nggak bisa ngurusnya, meskipun sekarang sama aja.

Saya nggak tau sih, saya nya aja yang belum siap atau emang belum boleh. Karena secara kebetulan saya nemu dua ekor kitten di sekitar rumah saya. Akhirnya saya boleh juga adopsi kucing di dekat rumah itu.


Ini dia Our first lady. Namanya Nupi. Kurang pasti juga sih berapa umurnya sewaktu diadopsi. Mungkin dua atau tiga bulan. Hobinya tidur di tempat-tempat sempit. Yang namanya pertama kali punya kucing, agak nggak nyangka aja gitu ya bisa ada makhluk berbuntut di rumah.
Saya sering banget nyelundupin dia ke kamar, padahal kalo ketauan pasti diomelin :D Mungkin karena bawaan kucing liar juga, sewaktu diajak bercanda, bercandaannya ngga mungkin halus. Berapa menit kemudian, tangan saya langsung ada bekas gigitan dan cakaran.

Di bulan-bulan awal masih nggak ada masalah punya kucing betina. Lucu, cepat tanggap, dan nggak main jauh-jauh. Tapi saya mulai was-was sejak halaman belakang dijamah kucing jagoan di daerah rumah saya. Si kucing jantan selain bisa menguasai daerahnya pasti gampang menaklukan kucing betina newbie kayak nupi. Awalnya sedih juga, nupi udah nggak virgin lagi padahal masih muda (bahkan dia bukan manusia), tapi kalau inget dia bakal membawa keturunan yang mudah2an lucu, saya akhirnya pasrah.

Saya tinggal magang liburan semester III, nupi akhirnya melahirkan anak pertamanya yaitu jantan dan betina. Yang agak nggak penting adalah pas ibu saya nelpon kasih kabar si nupi mules, saya kebetulan juga lagi mules2. Oke lupain aja, nupi melahirkan dua kitten, yang jantan namanya Jeruk, dan yang betina namanya Mochi.


Cerita-cerita tentang kucing saya masih panjang dan nggak akan berakhir disini. Saya akan bawa mereka di postingan selanjutnya. Seperti kata SNSD "B-Bring The Cats Out...!"



~salam cinta dari Nupi~

Saturday, December 17, 2011

Fanfiction vs Fiction

Jujur saya bukan orang yang sering menulis artikel apalagi ilmiah. Kemampuan menulis saya memang ringan banget. Menulis fiksi :D





Mari kita bahas FanFiction vs Fiction

Tentunya awal-awal iseng nulis cerita saya pasti kenal cerita fiksi lebih dulu, settingnya dari mulai cerita anak sekolahan, anak kuliahan, bahkan mungkin sempet bikin setting kantoran. Seiring berjalannya waktu kadang saya suka geli sendiri kalo baca cerita-cerita yang saya buat sewaktu SMP dan SMA, konfliknya ringan banget lah, kondisinya terlalu mengada-ada lah, dan lain-lain. Sampai akhirnya ide saya banyak yang ga jadi dan akhirnya vakum sendiri

Karena saya terserang virus SNSD di awal-awal jadi mahasiswa, otomatis saya membongkar gimmick-gimmick mereka di internet, dan saya menemukan kumpulan tulisan yang berlabel fanfiction. Fanficiton adalah cerita fiksi yang dibuat oleh fans dengan memakai karakter idola mereka sendiri. Siapa yang nggak suka ngebayangin idolanya bermain di cerita yang settingnya dibuat sendiri dan konfliknya bisa dirancang seenak jidat. Saya pun mencoba bikin dan ternyata cukup addicted. Yang biasanya kalo bikin cerita pasti tersendat di tengah, untuk fanfic ini saya bisa menamatkannya sampai ending. Nggak bagus-bagus amat memang, tapi ada kepuasan tersendiri kalo akhirnya mendapat feedback dari orang-orang.

Ada fanfic yang beneran bagus dan ceritanya berbobot, ada juga fanfic yang cuma buat seseruan. Intinya, fanfic punya sisi positif yang bisa menumbuhkan semangat siapapun untuk menulis cerita. Cerita yang disuguhkan fanfic juga saaaangat beragam. Dari mulai romantisme anak sekolah, sampai cerita sensual yang sangat bahaya untuk dibaca anak di bawah umur.

2 tahun kemudian virus Kpop juga melanda Indonesia, semuanya jadi serba Korea. Bahkan banyak novel-novel bersetting dan bertokoh orang Korea bermunculan. Awalnya saya seneng banget dengan fenomena ini, karena saya sempet nggak selera liat novel-novel ditoko karena keseringan baca fanfic. Tapi lama-lama rasa jenuh itu juga muncul dengan sendirinya, imajinasi saya yang biasanya sudah dibantu dengan karakter dan penampakan fisik tokoh2 yang dicomot untuk fanfic sekarang bisa berkembang lagi untuk tulisan fiksi biasa. Intinya saya kembali mengembangkan pikiran saya untuk menulis fiksi dengan setting Indonesia, pokoknya nggak comot-comot karakter dari Idol disana.

Mudah-mudahan saya tetep bisa mem-balance-kan hobi ketik-ketik saya di quick office dengan perkuliahan di FKH dan kegiatan di Himpro tercinta dengan harmonis. Karena saya akhirnya menemukan misi saya setelah lulus jadi dokter hewan mendatang. I WANNA BE GOOD VET WRITTER.

Salam cintaaa

Tuesday, December 13, 2011

SNSD - Diamond Lyrics (English)


When the snow begins to fly
above the smoky smoky sky
you came along like a snow flake
and brighten up my day

there is just one thing i need
on this snowy winter day
I'm you're fool to love you but
i want nothing but you

All i have to hear your voice
the one that brings me joy
and your warmth slowly wraps around my heart
boy can't you see

the lights are shining on me
and it's like a diamond
I'm spinning around rocking around like a diamond
that's because I'm filled with emotions

everybody is waiting for the holidays
candies and toys of silver trays
there is one thing special boy
you are my present

there is just one thing i need
on this snowy winter day
I'm you're fool to love you but
i want nothing but you

All i have to hear your voice
the one that brings me joy
and your warmth slowly wraps around my heart
boy can't you see

the lights are shining on
me and it's like a diamond
I'm spinning around rocking around
like a diamond

that's because I'm filled with emotion
(that's because I'm filled with emotion)

you're shiny you're gleamy
oh you make me like white snow
you're shiny you're gleamy
and your warmth slowly wraps around my heart
boy can't you see

the lights are shining on me
and it's like a diamond
I'm spinning around rocking around like diamonds
tell your heart

the lights are shining on me
and it's like a diamond
I'm spinning around rocking around like a diamond

that's because I'm filled with emotion
that's because I'm filled with emotion

Credits:
melon,sugarapple
wonderfulgeneration

Read more: http://www.wonderfulgeneration.net/2011/12/snsd-diamond-lyrics-english.html#ixzz1gQ77PWIi
WonderfulGeneration.net
Under Creative Commons License: Attribution

Monday, December 5, 2011

My Doodles (part 1)





Fafa berbaring diranjang single bed Sesa yang empuk. Kepergian saudaranya ke luar kota selama satu bulan cukup memberi banyak keuntungan untuknya. Pertama, kalau ia sudah sumpek dengan suasana kamarnya yang semrawut, ia bisa langsung mengungsi ke kamar Sesa yang rapi dan wangi. Kedua, kakak merangkap instruktur sekolah kepribadiannya itu tidak akan membuka kelas kepribadian yang kadang membuatnya lelah. Ia tahu, tujuan Sesa memang sangat mulia, di tengah kesibukannya sebagai peserta Ko-asisten gadis yang usianya lebih tua dua tahun darinya itu masih perhatian dengannya. Apa mau dikata, kadang Fafa mau menuruti saran Sesa, dan pelan-pelan berkembang menjadi lebih terbuka, tapi kalau sudah tidak nafsu, omongan Sesa cuma jadi angin lalu.

Di detik yang bersamaan ponsel Fafa bergetar dan chat notification muncul. Kontak di ponsel dari Sesa, dan kontak di internet dari Diro. Gadis itu tersenyum lebar menatap layar laptopnya, maaf Sesa, sepertinya tangannya lebih tergerak untuk membalas pesan dari lelaki itu lebih dulu.

91Oridas: Fafafafafa

FaustaFausta: didididirororororo

Fafa tertawa sendiri, ia tahu tulisan itu memang tidak ada artinya. Sepertinya rasa gengsi mulai runtuh kalau ia sudah mengaku senang bisa berinteraksi dengan orang yang memang berarti khusus untuknya. Baru saja menghempaskan punggung ke kursi, ponselnya sudah bergetar kembali, dan yang terpampang disana lagi-lagi nama "Sesa". Gadis itu sepertinya tahu kalau ia tidak mengirimkan pesan lagi, Fafa pasti akan lupa membalas pesan singkatnya. Dengan senyum menyeringai ia membaca kata-kata di layar ponsel dan segera mengetikan balasan untuk kakak semata wayangnya. Ternyata gadis itu cuma menanyakan pas foto miliknya, dan berpesan untuk menjaga kerapihan kamarnya, dasar bawel. Menit-menit berikutnya, Fafa mulai sibuk berkencan dengan laptopnya, membalas komentar di semua jejaring sosial miliknya, bermain game, dan yang terpenting mengobrol secara maya dengan Diro.

Menurutnya, lelaki diseberang sana itu mampu membuatnya mendapat wawasan baru, kalau begitu Diro sama dengan ayahnya saat mereka berdiskusi. Bukan, bukan itu maksudnya, yang berkesan darinya adalah ia mampu membuat Fafa tergelak saat membaca jokes atau tebak-tebakan lucu darinya, tapi teman-teman pria di kelasnya bahkan mampu membuatnya terbahak hingga menangis. Jadi apa yang spesial dari seseorang bernama Satria Sadiro?

Kalau sudah memikirkannya Fafa bisa termenung lama dan mulai mencari pembelaan diri. Awalnya Diro sukses membuatnya antusias karena pria itu juga menyukai primata sama sepertinya. Selanjutnya ia juga heran mengapa suasana juga bisa mencair meskipun primata sudah bukan lagi topik obrolan mereka. Diro lebih dari sekedar menyenangkan baginya. Suara dan tawa renyahnya sanggup membuat Fafa betah mendengarkan ceritanya tentang apapun, tatapan tajamnya bahkan bisa membuatnya membeku. Diro memang tidak terlalu tampan, tapi senyumnya akan membekas di otak hingga Fafa terlelap. Jatuh cinta memang kurang ajar, Fafa merasa bodoh kalau ia mulai tersenyum sendiri, dan yang paling sial ia akan merasa kehilangan kalau tidak ada komunikasi dengannya lebih dari 24 jam. Diro sialan, bisa-bisanya setelah seminggu kenal ia merubah Fafa menjadi gadis yang terserang virus merah jambu. Namun, begitu suara Diro memasuki telinganya, Fafa hanya mampu tersenyum dan menikmati pembicaraan ringan mereka.





Sebuah nissan march biru menghentikan laju mesinnya persis di depan pagar. Si pengemudinya keluar mobil untuk membuka pagar dengan wajah mengantuk. Sudah semalam ini sayup-sayup ia mendengar percakapan satu arah dari dalam rumahnya. Sepertinya percakapan lewat telepon, ia yakin si pemiliki suara itu masih normal karena tidak mungkin mengobrol sendirian. Selesai merapikan mobil dan mengunci pintu, Sesa berjalan perlahan menuju lantai dua. Ia benar-benar penasaran dengan siapa adiknya mengobrol. Bagus sekali, Fafa menutup pintu kamarnya dan yang bisa ia dengar hanya suaranya. Beberapa kali nama Bruce Wayne disebutnya, mungkin ia hanya mengobrol dengan teman kampusnya. Sesa tahu, adiknya masih jadi maniak Batman sampai sekarang, dan ada satu teman kampusnya yang juga setipe. Omong-omong pintu kamarnya dibiarkan terbuka dengan desktop yang masih menyala. Tadinya Sesa ingin langsung berteriak untuk sedikit ngomel, tapi pandangannya terhenti pada layar desktop. Banyak sekali kata "91Oridas" di sana. Setengah mati Sesa membayangkan siapa di balik nama itu. Bisa jadi teman kampusnya, ia jadi sedikit menyesal sudah jarang mengobrol ngalor ngidul dengan adiknya. Sepertinya seru kalau mendapati Fafa ternyata sedang dekat dengan seseorang, tapi rasanya jadi gondok kalau teman intensnya itu malah perempuan juga. Lihat saja, di Yahoo messenger ada Oridas, Email dari Oridas, tweet untuk Oridas, yang kurang cuma facebook, sekalian saja muncul blognya.

Sesa akui, ia ikut tersenyum sendiri membaca percakapan dua orang itu di dunia maya. Ada lelucon, obrolan tentang Primata, Batman, bahkan sesekali curhat. Sesa jadi gemas sendiri, pasti seru melihat perkembangan Fafa yang sekarang dekat dengan lawan jenis, semoga benar-benar lawan jenis. Tangannya jadi gatal untuk mengobrak-abrik identitas Oridas lebih jauh. Dengan cepat pointer menunjuk link profil Oridas dan sebuah nama muncul di layar laptop. "Satrio Sadiro" nama itu membuat Sesa terdiam lama, otaknya merewind tanpa ampun kenangan sialan itu, kesalahan yang sulit untuk dimaafkan diri sendiri.





Diro tahu pasti, usianya bukan remaja lagi. Jadi apa ia terlalu tua untuk merasakan jatuh cinta? Tentu saja tidak. Tuhan masih baik hati, memberinya perasaan itu setelah lama terkubur. Tidak sedikit sobat-sobatnya meremehkan dia untuk urusan perempuan. Ditinggal pacar satu kali, dan dibohongi pacar juga satu kali. Sejak itu ia jadi apatis dan seperti robot, semua wanita terlihat sama di matanya. Cerewet, egois, dan berwajah dua. Imbasnya, Diro sering berselisih dengan teman wanitanya, tidak sedikit yang menganggap lelaki itu menyebalkan. Ia sendiri tidak mau ambil pusing dicap jelek, tetap cuek seperti kafilah yang berjalan di depan anjing menggonggong.

Tanpa diminta, tabiat Diro yang sudah seperti manusia robot dilunakkan lagi. Semua ulah dia, gadis unik yang memiliki first impression Piyama Mashimaro dan celana pendek, tamparan di pipi Diro dalam rangka membunuh nyamuk, dan semua kisah-kisahnya tentang Primata. Ia yakin benar-benar bisa menilai wanita setelah bertemu Fafa. Gadis itu memang tomboy, rambut dipotong pendek, gaya berjalan seperti sersan, dan kulit yang kecoklatan karena sering terkena sinar matahari. Meski terlihat asal, Fafa menanggapinya bicara dengan baik,tidak hanya tentang primata. Intinya, gadis itu sukses membuat Diro mengakui kalau ia masih punya perasaan cinta. Bahkan ia sendiri masih sanksi berada di kampus Fafa yang letaknya berkilo-kilo meter dari kantornya, ia hanya berharap memiliki kesempatan bertemu dengannya. Bodohnya ia tidak tahu pukul berapa Fafa pulang, membayangkan bertemu dengannya saja sudah membuat Diro tersenyum sendiri. Sebenarnya jalan menuju ke rumah searah dengan kampusnya, ide gila Diro untuk turun dari bis lalu mondar mandir di depan gedung putih itu terlintas saat ia memikirkan perempuan bertawa melengking itu.

Ada perasaan kecewa karena sudah tiga puluh menit orang yang ia tunggu tidak juga muncul, itu memang resikonya, sok membuat kejutan tapi tidak ada persiapan yang matang. Dengan perasaan masih berharap, Diro akhirnya memusatkan pandangan pada Kopaja, mencari angkutan dengan nomor trayeknya, mungkin ia harus bersiap untuk pulang. Dari kejauhan dua angka di kopaja yang selalu ia cari itu muncul. Diro melambaikan tangan dan hendak berlari, tapi tiba-tiba saja tubuhnya terjerat oleh tas ranselnya sendiri. Hampir saja ia menyangka kecopetan sebelum melihat orang yang menarik tas nya. Orang itu menertawakan Diro, dan segera memasukan tangannya ke saku, berpura-pura ia tidak pernah menarik tasnya.
"Gue kira copet! Pede banget deh tarik-tarik tas gue, gimana kalo ternyata orang yang lo tarik tasnya bukan gue?"
Tawanya malah semakin susah dihentikan, ingin rasanya Diro mengacak rambutnya lalu membekap mulutnya agar gadis itu diam, tapi untuk menyentuh rambutnya saja ia merasa canggung.

"Sorry, sorry, gue suka nggak jelas. Rasanya lucu ngeliat lo disini, gue nggak nyangka aja"

"Lucu apa? Bagus atau jelek maksudnya?"

"bagus"

Fafa masih memamerkan giginya sambil terkekeh, apa dia tidak sadar, kalimatnya barusan hampir membuat Diro terbang. Jadi dia suka dengan kedatangannya? Rasanya seperti berdiri diatas air mancur yang meluap-luap. Belum lagi ia baru sadar kalau mereka akan berada di dalam bis yang sama sebelum Fafa turun di perempatan jalan kedua. Ini pertemuan ketiga mereka setelah kembali ke Jakarta. Meskipun semuanya dari inisiatif Diro, yang penting gadis itu terlihat senang menemuinya. Itu keuntungannya punya satu kesamaan hobi. Ia melupakan lelahnya dengan menemui Fafa sepulang kerja hanya untuk meminjamkan buku-buku tentang Kukang, selanjutnya ia berusaha membeli beberapa komik Batman dan menghadiahkannya lagi-lagi untuk Fafa. Belakangan ia baru tahu kalau gadis itu juga penggemar berat ksatria kelelawar dari warner bross. Sebelumnya ia sama sekali tidak pernah melakukan hal ini pada siapa pun, perhatian saja kurang. Entahlah, Diro tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan mempertemukan mereka, sebuah pertemuan singkat yang langsung membuat Fafa terlihat unik dan sangat berkesan untuknya. Ia sudah tidak peduli dengan prinsip apatisnya, yang jelas ia selalu ingin membuat gadis disampingnya tersenyum.

Tidak ada yang tahu angin apa yang membawa mereka turun dari bus dan memasuki pusat perbelanjaan. Rencananya Fafa memang ingin membeli keperluan yang dititipkan ibunya, tapi tentu saja Diro belum ingin melepasnya dan pasti akan mengekor sebelum keduanya benar-benar pulang ke rumah. Sepanjang jalan lelaki berkulit cokelat itu tidak pernah kehabisan ide untuk membuatnya tertawa. Seringkali Diro memandangi eskpresi gelak tawa Fafa, beberapa gurat akan terlihat di pipinya, gadis itu semakin unik. Menuju sebuah kedai es krim, langkah Fafa terhenti, ia menatap malas pemandangan di depannya.

"Hey, kenapa?"

"Gue males ketemu mereka. Mereka itu mulutnya menyebar kemana-mana. Gue nggak mau jadi bahan gosip mereka"

"memangnya apa yang bisa digosipkan dari kita?"

Semakin langkah mereka mendekati toko es krim, Fafa menarik lengan kemeja Diro. Wajahnya sedikit salah tingkah, matanya tidak fokus lagi kalau menatap Diro. Apa dia gugup? Laki-laki itu tersenyum senang. Ia semakin mendekati Fafa dengan memandang wajahnya lebih dekat.

"Yaa... Lo tau kan bagaimana kerja gossip girl kalo ngeliat cewek yang selama ini sendirian tiba-tiba jalan bareng seseorang"

Fafa melihat kesana kemari, ia berakting waspada dari teman-teman kampusnya, tapi Diro tau gadis itu sedang menghindar dari tatapan matanya.

"Memangnya ada apa dengan kita? Bukannya ini seharusnya terjadi?"

Fafa makin bingung dengang tanggapan-tanggapan Diro. Apa maksudnya?

"Mereka nggak salah Fa, gue ngg... boleh kita bicara aku kamu?"

Gadis berambut pendek itu benar-benar kaku. Semuanya di luar ekspektasi. Apa iya, Diro akan... Tapi ia juga tidak mau berharap yang terlalu tinggi, takut diluar harapan. Pikirannya saja sudah blank saat pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya dan menuntunnya masuk ke kedai es krim itu. Benar kata Fafa, sekumpulan gadis itu langsung berbisik melihat kedatangan mereka. Gerakan Fafa jadi seperti robot, karena rasa gugupnya mempengaruhi gerak ototnya. Diro membawa mereka duduk di sudut kedai. Ia benar-benar kehilangan nyali menatap laki-laki itu, respon tatapannya hanya akan membuat jantungnya bekerja rodi.

"Kamu bukan anak kecil yang harus malu kalau diejek temannya pacaran dengan seseorang. Usia kita beda dua tahun kan? Aku dua puluh dua, kamu dua puluh. See, umur kamu bahkan sudah berkepala dua"

Fafa tidak mampu lagi membalas tanggapan Diro, ia hanya meringis.

"Wajar saja, sepasang wanita dan pria berjalan bersama. Mereka bisa jadi sahabat baik, atau... Memang ada perasaan khusus. Menurutmu kita yang mana?"

Oh Tuhan, pertanyaan macam apa yang ia ajukan? Tadinya Fafa bisa fokus dengan dua hal. Mengawasi sekumpulan penggosip itu dan tetap fokus di depan Diro. Tapi sekarang mata dan pikirannya hanya terpusat pada lelaki di depannya. Pendapatnya memang benar, Diro adalah orang paling kurang ajar yang secara tiba-tiba bisa membuatnya menjadi robot yang kehilangan sistem.

"Bisa jawab Fa? Aku traktir kamu apa pun kalau kamu mau jawab"

"Diro... Aku.. Aku.."

"jangan bilang, aku... Aku sakit perut, Ro"

Fafa memukul lengannya keras, ia mengaduh lalu mengelus-ngelus bekas pukulan gadis itu. Tawanya tetap tidak bisa dihentikan. Ia senang melihat ekspresi gugup Fafa, meskipun ada juga rasa cemas kalau gadis itu hanya menganggapnya sebagai sahabat baik.

"So, gimana? Sudah punya jawaban dan siap untuk traktiranku?"

Gadis itu menarik nafas panjang lalu menggigit bibirnya. Diro berusaha menahan gemasnya pada orang satu itu.

"oke.. Jujur, aku.. Aku nggak pernah merasa terganggu dekat dengan teman cowokku. Tapi sejak kamu datang, kamu seenaknya buat aku gugup, buat aku merasa bodoh kalau tiba-tiba tersenyum sendiri. You definitely damn angel"

Diro tertawa, tangannya terulur dan menggenggam jemari Fafa. Suhunya turun mendadak, jari-jari itu terasa dingin.

"Kamu kira aku nggak merasa bodoh? Sudah bertahun-tahun aku hanya seperti robot, nggak punya perasaan. Dan semua berubah saat aku kenal kamu. Kamu seperti ambisi untukku, ambisi untuk selalu membuatmu senang, dan nyaman berada di sampingku. Jadi kamu nggak perlu takut tentang tanggapan mereka, karena memang ada sesuatu diantara kita"

"Tuh kan, kamu emang robot sialan! Bisa-bisanya langsung membuka topik obrolan kayak gini. Kamu nggak mikirin jantungku kalau berdenyut terlalu keras"

Fafa malah meremas tangan Diro di genggamannya. Lelaki itu meringis lagi sambil terbahak

"Hey, kamu kira aku nggak kepengen mati untuk melakukan semua yang ada diotakku? Aku cuma pengen kamu tau, karena nggak mungkin lagi ditunda. Aku beneran sayang kamu Fa"

Fafa bingung mau bicara apa lagi, ia hanya bisa menarik sudut bibirnya untuk tersenyum malu-malu. Jujur, ini diluar perkiraannya. Mereka memang sudah mengenal selama sebulan, dan menurutnya itu sangat diluar kebiasaan ia mampu membuka isi kepalanya di depan orang yang memang ia suka, apalagi tentang semua perasaannya. Bahkan mungkin Diro sendiri tidak akan terpikirkan untuk nekat memngungkap perasaan kalau tidak ada sekumpulan penggangu sekaligus pendukung itu. Mereka akhirnya keluar dari kedai es krim setelah melahap dessert sejuk itu sambil bergandengan tangan. Sejarah pertama dalam hidup Fafa.

Monday, November 28, 2011

Being mature?

Dewasa?? Kalau dari ilmu yang saya pelajari dewasa itu dilihat dari dewasa kelamin dan dewasa tubuh. Uppss itu buat hewan sih. Untuk manusia, jelas lebih complicated definisi dari kata dewasa. Orang bisa disebut dewasa kalau ia sudah bertindak tepat dalam menyelesaikan masalah, luas juga kan artinya? Kalau yang tadi namanya dewasa sikap. Selain dewasa sikap, ada juga dewasa pemikiran. Berarti sebelum bertindak orang itu bisa memikirkan dulu secara matang yang ia lakukan. Nah gimana kalau orang yang tau banyak tentang 'hal berbau dewasa'. Anak yang jauh dari usia dewasa pun bisa saja tau tentang pengetahuan itu lho. Jadi kalau otak saya kelompokan, menurut saya ada tiga sisi dewasa dari manusia, dewasa sikap, dewasa pemikiran, dan dewasa pengetahuan. Memang dewasa sikap dan dewasa pemikiran pasti dalam satu paket. Darimana orang bertindak dewasa kalau pemikirannya sendiri nggak mendukung. Sedangkan dewasa pengetahuan, juga nggak akan berguna atau malah menimbulkan masalah kalau orang itu nggak dewasa dalam pemikiran dan tindakan.

Saturday, November 26, 2011

Intro

(Prognostia Fausta)
Gugup adalah efek fisiologis manusia yang paling kubenci. Aku tidak suka denyut jantungku bekerja lebih cepat bahkan berusaha mengejar kecepatan angka tiap detiknya. Jika sudah menemukan biang keroknya, aku pasti akan mengurangi atau membasmi sekalian agar perasaan mengesalkan ini hilang. Tapi sialnya kali ini aku gagal, dan penyebabnya tentu hanya satu, dia.

Sudah tidak bisa kuhitung berapa kali aku merasa jatuh cinta. Jatuh cinta itu luas, pada sesuatu yang bernyawa ataupun hanya benda mati sekalipun. Aku pernah merasa perasaanku dikuasai oleh dia yang sudah seminggu membuatku lalai melakukan tugasku. Video game, aku memang jatuh cinta dengan benda satu itu. Tapi yang ini lain, aku jatuh cinta dengan makhluk hidup, dia bukan anjing Labrador milik tetangga, atau bahkan tanaman antorium milik ibuku. Manusia pengacau detak jantungku itu sudah seminggu bersarang di pikiranku. Aku tidak pernah menyangka sebagai manusia ternyata cinta semacam itu masih kumilki, melihat dari sejarahku yang panjang, aku belum pernah sekalipun merasakan perasaan cinta yang serius dengan manusia lawan jenis. Jadi aku pernah serius dengan manusia sesama jenis? Amit-amit, aku masih menjadi perempuan normal meskipun dari tampilan tidak terlalu meyakinkan.

Kembali ke manusia pengacau itu, ini sudah hari kedelapan aku bertemu dengannya. Tuh kan, sejak kapan aku jadi meghitung berapa kali frekuensi kami bertemu. Sebenarnya kemunculannya saat itu cukup mengherankan. Ia datang sendiri ke tempat kakakku bekerja dengan postman bagnya juga kamera DSLR yang dikalungkan di leher sama sepertiku. Kukira ia hanya wartawan biasa yang ingin meliput suasana Cikananga, Pusat Penyelamatan Satwa di Jawa Barat. Dengan senyumnya yang kuakui cukup manis, ia menjelaskan latar belakangnya mengunjungi tempat ini. Ternyata ada satu kesamaan dari kami, kami berdua adalah penggemar primata. Dengan antusias ia menunjukan catatan dan hasil fotonya yang ia dapatkan dari berbagai sumber. Kami sudah banyak menghabiskan waktu bersama selama delapan hari ini. Ini pun masih di luar kebiasaanku.

Aku bukan tipe orang yang mudah mengobrol dengan siapa saja, kakakku bahkan sering mencoba membuatku lebih kritis dan jangan menjadi pendiam, tapi tetap saja aku akan kembali ke tabiat asal karena manusia pasti akan memilih yang lebih nyaman untuknya. Entahlah, apa yang terjadi saat aku dan dia bertemu, semua obrolannya menjadi sangat menarik untuk didengar dan ditanggapi. Dugaanku karena topik pembicaraannya yang menarik aku tidak sungkan mengobrol dengan orang baru, sementara hanya itu yang bisa kusimpulkan. Aku tidak mau terburu-buru menyimpulkan kalau aku tertarik dengannya. Aku tahu, egoku cukup tinggi kalau bicara tentang perasaan. Dan akhirnya aku hanya bisa menyimpan perasaan itu dalam-dalam dan membiarkannya hanyut sendiri tanpa sempat berkembang.

(Princessa Kiara)
Pernah merasa berdosa saat dipertemukan dengan orang di masa lalumu? Aku baru saja mengalaminya. Aku benar-benar terpaku melihat sosoknya sekarang hanya berjarak beberapa meter dariku. Ia masih seperti dulu, lelaki hitam manis yang ramah. Otakku tanpa ampun merewind apa yang sudah kami lewati. Kelakuanku, perkataanku, benar-benar membuatku merasa bersalah jika mengingatnya. Mungkin aku adalah orang yang paling ia benci selama hidupnya. Aku memang tak pantas berada disampingnya saat itu, dan aku tidak seharusnya menyakiti lelaki seperti dia.
Sekarang aku hanya bisa melangkah mundur agar pandangan tadi segera lenyap. Adikku dan dia. Aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka sudah saling kenal, mereka terlihat akrab. Aku tau pasti, adikku tidak pernah mencair bisa bertemu dengan orang yang baru dia kenal. Jadi apa hubungan mereka? adikku memang belum pernah cerita kalau ia sudah pacaran. Sumpah, aku juga belum pernah melihatnya akrab dengan lelaki manapun, seandainya dia adalah teman dekatnya, adikku pasti pernah menceritakan tentangnya meskipun sedikit. Aku semakin bingung dengan posisiku sekarang, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, dan aku tidak mungkin muncul lagi di hadapan pria itu. Aku sudah cukup merasa berdosa dengan perlakuanku dulu.